Waspada Penipuan Online Berkedok Donasi! Ini 7 Cara Ampuh Menghindarinya

Redaksi Lensametro
1 Nov 2025 09:47
4 menit membaca

Lensametro.com — Kamu mungkin pernah melihat postingan yang menguras emosi di media sosial: “Bantu anak orang tak mampu untuk biaya operasi”, “Darurat bencana, bantu lewat rekening ini!”. Saya pun pernah terpanggil untuk ikut berdonasi—sampai akhirnya saya membaca berita bahwa aksi mulia itu banyak yang jebakan. Misalnya, satu laporan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember menyebut bahwa donasi online kini sering “berkedok kemanusiaan”, padahal sesungguhnya hanya ladang penipuan.

Contoh lainnya, sebuah artikel di Tirto ID memperingatkan tentang donasi untuk Palestina yang tersebar secara masif, tapi banyak yang palsu. Ciri donasi penipuan ini di antaranya menggunakan narasi yang sangat emosional dan rekening tak jelas.

Nah, artikel ini kami tulis supaya kamu makin berhati-hati ketika ingin berdonasi secara online. Yuk, kita bahas bersama tujuh strategi efektif menghindarinya.

7 Strategi Melindungi Diri dari Donasi Online Abal-abal

1. Periksa Kredibilitas Lembaga Donasi

Cek situs resmi dan izin lembaga

Sebelum kamu masuk ke rekeningmu untuk transfer, pastikan organisasi yang menerima donasi punya situs web resmi, alamat fisik, kontak yang bisa dihubungi. Pasalnya, penipu kerap menggunakan identitas lembaga palsu atau menyamar sebagai yayasan tepercaya.
Lembaga tepercaya biasanya mencantumkan laporan kegiatan dan penyaluran dana. Kalau tidak ada, nah, itu bendera merah.

2. Jangan Mudah Tersentuh Narasi Emosional

Ambil jeda sebelum berdonasi

Gambar dan narasi yang sangat memancing empati (anak kurus dan menangis, korban bencana, “hari ini saja”) bisa jadi alat pelaku untuk menggoda kamu bertindak cepat. Misalnya dalam laporan ITS disebutkan bahwa modusnya memakai “tekanan situasi” supaya korban tak sempat berpikir panjang.

Jadi, ambil waktu sejenak: tarik napas, pikirkan tujuan, dan jangan transfer hanya karena “hati merasa tersentuh”.

3. Hindari Transfer ke Rekening Pribadi

Donasi resmi selalu lewat rekening lembaga

Salah satu ciri penipuan adalah akun atau rekening pribadi yang mengaku untuk “kampanye kemanusiaan”. Artikel Tirto menyebut bahwa donasi yang sah jarang memakai nama pribadi, melainkan menggunakan  lembaga yang jelas.

Kalau kamu menerima info rekening atas nama pribadi tanpa nama organisasi, sebaiknya batalkan saja.

4. Gunakan Platform Donasi Tepercaya

Pastikan ada transparansi laporan

Kamu bisa memilih platform berdonasi yang telah terverifikasi (misal platform crowdfunding yang punya review catatan penggunaan dana). Dalam artikel ITS disebut bahwa donatur juga memiliki hak untuk memantau aliran dana dan meminta bukti penyaluran. Dengan begitu, niat baik kamu berpeluang nyata sampai ke penerima manfaat.

5. Waspadai Ajakan di Media Sosial

Jangan asal percaya tautan yang dikirim

Postingan di grup WhatsApp, Instagram, atau chat pribadi yang menyebar link “donasi cepat” bisa jadi jebakan. Ini salah satu modus penipu: muncul lewat chat pribadi, grup, atau akun palsu. Sebaiknya, buka link secara mandiri lewat situs lembaga resmi—jangan klik langsung dari pesan yang tak dikenal. Atau, lebih aman, jangan diklik sama sekali, langsung delete saja.

6. Edukasi Orang Sekitar

Bantu keluarga agar tidak mudah tertipu

Kamu bisa berbagi pengetahuan ini dengan orang tua, saudara, atau teman yang mungkin belum tahu soal modus penipuan online. Nyatanya, banyak korban berasal dari mereka yang punya niat baik tapi kurang sadar modus digital. Makin banyak orang yang tahu caranya, makin kuat ‘tembok’ kita terhadap penipuan.

7. Laporkan Jika Menemukan Indikasi Penipuan

Gunakan kanal pelaporan resmi

Kalau kamu menemukan kampanye donasi yang mencurigakan—rekening tidak jelas, identitas lembaga samar, atau update tidak ada—laporkan ke pihak berwenang atau lembaga terkait. Berikut beberapa tempat resmi untuk melaporkan penipuan online di Indonesia:

  • go.id – Platform nasional resmi pemerintah untuk menyampaikan aduan masyarakat, termasuk penipuan online. Pilih kategori Penipuan Online, isi kronologi kejadian, dan lampirkan bukti seperti tangkapan layar atau bukti pembayaran. Laporanmu akan diteruskan ke instansi terkait seperti Kominfo, OJK, atau kepolisian.
  • Patroli Siber Bareskrim Polri – Situs resmi Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri. Kamu bisa melaporkan penipuan dengan mengisi formulir dan melampirkan bukti percakapan atau transaksi.
  • Otoritas Jasa Keuangan (OJK) – Untuk kasus penipuan yang berkaitan dengan investasi bodong atau pinjaman online ilegal. Kamu juga bisa menghubungi nomor 157 atau kanal Satuan Tugas Waspada Investasi (SWI).
  • id – Platform resmi Kominfo untuk melaporkan nomor telepon yang digunakan untuk penipuan atau pemerasan. Cukup unggah bukti berupa tangkapan layar atau rekaman percakapan.
  • id – Situs milik Kominfo untuk mengecek dan melaporkan rekening bank yang terindikasi digunakan untuk penipuan. Masukkan nomor rekening, nama pemilik, dan nama bank untuk memastikan keamanannya.

Semakin banyak yang melapor, makin sulit bagi penipu untuk bergerak bebas. Ingat, satu laporan dari kamu bisa menyelamatkan banyak orang.

 Tetap Peduli, Tapi Juga Hati-Hati

Berdonasi adalah sebuah tindakan mulia dan niat baik kamu sangat berarti. Namun, niat itu juga butuh dilengkapi dengan kewaspadaan agar tak berbalik jadi kerugian. Dengan menerapkan strategi di atas—cek lembaga, hindari narasi menekan, pastikan rekening lembaga, gunakan platform tepercaya, aktif di media sosial, edukasi sekitar, dan laporkan—kamu bisa berdonasi dengan lebih aman.

Mari kita tetap peduli, tetap berempati, tetapi juga tetap hati-hati—karena kebaikan yang dikawal dengan bijak akan makin bermakna. [LM]