
SEPERTINYA, ekspektasi mendapatkan tontonan film yang bagus jangan selalu disematkan pada aktor atau aktris yang membintanginya. Setidaknya, itu yang saya rasakan saat memutuskan menonton film Alarum (2025).
Jujur saja, faktor pertama yang membuat saya akhirnya menonton film ini adalah deretan bintang yang mengisi jajaran pemain. Ada Sylvester Stallone, Scott Eastwood, dan Willa Fitzgerald.
Lumrah memang, nama besar sering menjadi daya tarik seseorang untuk menonton film. Dan biasanya, keputusan yang didasarkan pada pertimbangan itu bukanlah hal yang buruk. Namun, dalam kasus Alarum, keputusan menonton hanya karena nama-nama bintang yang tertera di poster justru terasa sebagai keputusan yang keliru.
Film ini berkisah tentang Joe (Scott Eastwood) dan Laura (Willa Fitzgerald), dua mata-mata pemerintah yang bertemu lalu jatuh cinta. Keduanya kemudian membelot dari agensi masing-masing demi menikah. Joe dan Laura pun menjauh dari dunia intelijen dan memilih menetap—atau mungkin berlibur—di Polandia.
Premis tersebut sejatinya lazim. Yang paling melekat di ingatan tentu Mr. & Mrs. Smith, kisah cinta dua agen yang diperankan Brad Pitt dan Angelina Jolie. Setelahnya, muncul pula film dengan premis serupa, Back in Action, yang dibintangi Jamie Foxx dan Cameron Diaz.
Dua film terakhir yang saya sebutkan memiliki premis sama: dua agen yang jatuh cinta lalu menikah. Namun, kesamaan premis yang dikemas dengan baik justru menghasilkan film yang solid. Berbeda dengan Alarum, yang terasa serba tanggung dan tidak meyakinkan.
Di Polandia, Joe dan Laura tinggal di sebuah kabin mewah yang tampak jauh dari permukiman. Entah bagaimana ceritanya, mereka harus menghadiri undangan makan siang dari pasangan suami istri asal Prancis yang tinggal tak jauh dari kabin tersebut.
Kemudian, Joe, tetangga perempuannya, serta beberapa orang yang tidak jelas latar belakangnya, berjalan-jalan di hutan dalam sebuah kegiatan yang mereka sebut sebagai tur. Di situlah sebuah pesawat jatuh tidak jauh dari mereka. Lalu Joe mengambil “sesuatu” dari dalam tubuh sang pilot. Ya, saya serius—Joe merobek tubuh si pilot untuk mengambil sesuatu yang sama sekali tidak dijelaskan apa.
Tindakan Joe terasa janggal. Dari mana ia tahu bahwa di dalam tubuh pilot terdapat “sesuatu”? Mungkin petunjuknya adalah fakta bahwa pilot dan kopilot tewas ditembak saat mengudara, yang kemudian menyebabkan pesawat jatuh.
Setelah itu, Joe dan Laura diburu. Adegan demi adegan terasa membosankan. Alih-alih seru, menegangkan, atau memancing rasa penasaran, alur cerita justru berjalan lambat dan bertele-tele.
Penonton kemudian diberi tahu bahwa alasan Joe dan Laura diburu adalah karena mereka menyimpan sebuah flash drive—yang entah dari mana asalnya, kemungkinan besar dari tubuh pilot yang “dibedah” Joe. Selain itu, keduanya juga dicurigai bergabung dengan sebuah organisasi global bernama Alarum.
Pasukan anak buah Orlin (Mike Colter) datang menyerbu Joe di hutan. Namun, pertempuran yang diharapkan intens dan menegangkan justru terasa hambar, serba tanggung, dan tidak meyakinkan. Adegan baku tembaknya seperti pertunjukan festival hari kemerdekaan dengan kostum alakadarnya dan senjata yang seolah dirakit dari kayu bekas.
Kemudian muncullah Chester (Sylvester Stallone), yang juga ditugaskan memburu Joe dan Laura. Awalnya saya mengira kehadiran Stallone akan membantu mengangkat film ini. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Saya malah bertanya-tanya, benarkah sosok Chester diperankan oleh Sylvester Stallone?
Kita tentu tahu kualitas akting dan aksi Stallone dari banyak film sebelumnya. Dari seri The Expendables, kita disuguhi pertempuran epik Stallone dan kawan-kawan. Atau kebrutalannya di Rambo: Last Blood, ketika dia tanpa ampun menghabisi musuh-musuhnya.
Di Alarum, alih-alih tampil kejam dan efektif, Stallone justru tampak seperti lupa bahwa dia sedang bermain dalam film aksi, karena terlalu banyak berbicara layaknya film drama.
Di Alarum, Stallone seolah bermain tanpa gairah, seperti tampil sekadarnya. Dia terlihat tidak memiliki komitmen penuh terhadap perannya. Bahkan, detail penampilannya di film ini begitu mudah hilang dari ingatan.
Dialog garapan Alexander Vesha, yang biasanya terasa tajam, entah bagaimana justru menjadi membingungkan sekaligus sangat mudah ditebak dalam waktu yang bersamaan. Adegan aksi tidak ada yang istimewa. Koreografi pertarungan menyerupai latihan menari, efek CGI terlihat murahan, dan tembakan senjata yang sama sekali tidak meyakinkan, tapi terus-menerus dipertontonkan.
Akhir kata, Michael Polish selaku sutradara telah “berhasil” menjadikan deretan bintang seperti Sylvester Stallone, Scott Eastwood, dan Willa Fitzgerald tampak seperti aktor film indie dengan anggaran pas-pasan. Maka wajar jika filmnya pun berujung mengecewakan.
Ulasan ditulis oleh Ahmad Romdoni