Ilustrasi dibuat dengan bantuan AI“Jika diberi perhatian terlalu banyak, seekor keledai akan merasa dirinya adalah singa”
JUJUR saja, saya tidak tahu itu kalimat atau kutipan milik siapa. Beberapa kali saya membaca atau mendengarnya di media sosial. Saya pun tidak terlalu peduli siapa yang pertama mengucapkannya. Yang jelas, saya cukup setuju dengan maknanya.
Dalam kalimat itu, keledai dan singa dipertemukan. Padahal kedua hewan itu berada di dua kutub yang berbeda. Keledai kerap dijadikan metafora tentang kebodohan, kecerobohan, keras kepala, atau sifat-sifat lain yang memalukan. Sementara singa memiliki gelar raja hutan: gagah, disegani, dan melambangkan kewibawaan.
Maka secara sederhana, saya memaknai kalimat itu begini: ketika orang yang sebenarnya minim kapasitas diberi perhatian berlebihan, lama-kelamaan dia akan merasa dirinya paling dominan. Bukan sekadar merasa benar, melainkan merasa paling benar.
Konon, metafora keledai sebagai simbol kebodohan atau kecerobohan berasal dari pengamatan budaya kuno terhadap tingkah laku hewan ini. Keledai dianggap keras kepala, kurang peka terhadap keadaan sekitar, serta memiliki kecenderungan bertindak tanpa perencanaan alias sembrono.
Tak hanya itu, pada masa Romawi, keledai dipercaya sebagai hewan yang sulit belajar dari pengalaman. Tidak seperti hewan lain yang bisa dilatih, keledai dianggap terus mengulangi kesalahan yang sama. Dari sanalah lahir ungkapan, “Hanya keledai yang jatuh ke lubang yang sama.”
Dalam Surat Al-Jumu’ah ayat 5, Allah memberikan perumpamaan tentang orang-orang yang diberi amanah ilmu, tetapi tidak mengamalkannya. Mereka diibaratkan seperti keledai yang memikul kitab-kitab tebal.
Keledai itu membawa ilmu, tetapi tidak memahami isi yang dipikulnya, tak membawa manfaat apa-apa. Ilmu itu hanya menjadi beban di punggungnya, bukan cahaya yang menerangi akal dan hatinya. Wallahu a’lam.
Di Spanyol terdapat sebuah peribahasa yang berbunyi, “Tidak ada keledai yang botak.” Maknanya adalah ajakan untuk bersikap realistis, jujur terhadap kenyataan, dan tidak memaksakan sesuatu di luar fakta.
Meski secara ilmiah keledai tentu saja bisa mengalami kebotakan. Bulunya bisa rontok karena tungau, kutu, penyakit kulit, atau kebiasaan menggosok-gosokkan tubuhnya ke permukaan kasar ketika merasa gatal.
Namun secara metaforis, keledai botak dapat dimaknai sebagai seseorang yang sebenarnya tidak memahami banyak hal, tetapi memaksakan diri tampil sebagai pemikir besar.
Dia berpikir terlalu keras bukan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk mempertahankan kesombongan. Sampai-sampai kepalanya seolah “botak” karena dipenuhi ambisi yang melampaui kapasitasnya sendiri.
Keledai botak adalah orang-orang yang ilmunya tipis, tetapi ingin selalu tampak paling filosofis. Dia sibuk berbicara, gemar menggurui, rajin menghakimi, namun miskin kemampuan untuk mengevaluasi diri.
Keledai botak bekerja keras, tetapi bukan bekerja cerdas. Dia mengulang metode yang sama berkali-kali meski terbukti gagal. Dia melelahkan dirinya sendiri demi sesuatu yang sia-sia karena enggan introspeksi.
Bulu merupakan pelindung alami seekor hewan. Ketika bulu itu hilang, tubuhnya menjadi rentan terhadap panas, hujan, gigitan serangga, dan berbagai penyakit. Maka keledai botak dapat pula dimaknai sebagai seseorang yang kehilangan pelindung terbaik dalam hidupnya: akal sehat dan rasa malu.
Umurnya bertambah, tetapi kedewasaannya tidak ikut tumbuh. Pengalamannya semakin banyak, tetapi kebijaksanaannya justru semakin sedikit.
Dan keledai botak bisa hadir di sekitar kita. Sosok yang ilmunya belum seberapa, tetapi merasa paling pintar sejagat raya. Orang yang baru membaca satu-dua halaman, lalu menganggap dirinya telah menguasai seluruh isi perpustakaan.
Kalau meminjam ungkapan Prabu Angling Dharma, keledai botak adalah orang yang “ilmunya sejumput sehingga menganggap kobokan adalah lautan.” Sedikit tahu, banyak bicara. Sedikit paham, banyak menghakimi. Lalu merasa dirinya paling suci.
Dan menurut saya, keledai botak memiliki satu sifat yang lebih berbahaya daripada sekadar kebodohan, yaitu kedengkian.
Keledai botak selalu tidak tahan melihat orang lain lebih dihormati. Dia gelisah melihat orang lain lebih berhasil. Dia senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang.
Bahkan kepada saudaranya sendiri pun, dia sulit ikut berbahagia. Bukan karena saudaranya berbuat salah, melainkan karena dia tidak rela ada orang lain lebih tinggi daripada dirinya. Ikatan keluarga tinggal ikatan keluarga, baginya siapa pun harus berada di bawahnya. Dan dengan cara apa pun, dia akan menggerogotinya.
Namun keledai botak juga pengecut. Oleh karena itulah dia memilih jalan yang tidak membutuhkan keberanian: bermain di belakang. Dia kadang pilih-pilih lawan. Kalau sedang di depan orang yang dia takuti atau segani, dia jadi anak manis. Tapi di depan orang yang dia anggap bodoh, dia berkoar seperti deru halilintar.
Dia cenderung jarang menyerang secara terbuka. Dia lebih gemar menghasut daripada berdialog. Dia meniupkan prasangka kepada orang lain, menyusun cerita palsu, memelintir fakta, lalu membiarkan orang lain bertengkar, sementara dirinya berpura-pura tidak tahu apa-apa.
Dia merasa dirinya paling cerdas karena berhasil menggerakkan orang lain tanpa terlihat. Padahal itu bukan kecerdasan, melainkan kelicikan sekaligus kemunafikan.
Yang lebih ironis, ketika keadaan berbalik, dia menjadi orang pertama yang menghilang. Sebab sejak awal dia memang pecundang. Dia hanya berani ketika bersembunyi, di balik bisikan, di balik kerumunan, atau di balik mulut orang lain.
Keledai botak juga sering kali pandai melupakan jasa. Ketika membutuhkan bantuan, dia datang dengan wajah paling ramah. Namun ketika merasa sudah cukup kuat, dia justru menggigit tangan yang pernah mengangkatnya. Dia menganggap rasa terima kasih sebagai kelemahan, dan kesetiaan sebagai sesuatu yang bisa diperdagangkan.
Barangkali itulah sebabnya keledai tetaplah keledai.
Diberi mahkota, dia tidak berubah menjadi singa. Diberi panggung, dia tidak akan menjadi pelindung. Diberi perhatian, tak akan melahirkan kebijaksanaan. Diberi ilmu, malah membuatnya jadi sosok tak tahu malu.
Ah dasar, keledai botak!
____
Ditulis oleh: Ahmad Romdoni
Disclaimer: isi tulisan sepenuhnya merupakan pandangan dan tanggung jawab penulis, bukan pandangan ataupun tanggung jawab redaksi