
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi cuaca di wilayah Kabupaten Tangerang jelang akhir Desember 2025 dan awal Januari 2026 akan terjadi curah hujan yang ekstrem.
Pernyataan itu disampaikan Kepala Bidang Meteorologi dan Klimatologi pada Balai Besar MKG Wilayah II Ana Oktavia Setiowati, saat Rapat Koordinasi Forum Komunikasi Pimpinan Daerah dalam rangka persiapan Hari Raya Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 di wilayah Kabupaten Tangerang di Pendopo Bupati Tangerang, Selasa (9/12/25).
“Saat ini kami memonitor terdapat pergerakan cuaca peningkatan hujan dari 75 sampai dengan 150 persen dengan puncak musim hujan di bulan Januari 2026,” kata Ana.
Sedangkan untuk klimatologi, lanjut Ana, gelombang laut di wilayah Kabupaten Tangerang akan mengalami kenaikan tinggi gelombang dari 0,5 sampai dengan 1,5 meter.
Menanggapi prediksi itu, Bupati Tangerang Maesyal Rasyid meminta anak buahnya untuk siap siaga. Dia mengingatkan jajaran untuk benar-benar meningkatkan kewaspadaan menghadapi segala bentuk potensi bencana di musim penghujan.
“Mitigasi bencana harus menjadi perhatian kita semua mengingat potensi cuaca ekstrem pada akhir tahun,” ujarnya.
Maesyal juga meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang dan seluruh tim siaga bencana untuk selalu dalam posisi siap ditugaskan setiap saat.
“Kita bersama dengan Forkopimda sudah mempersiapkan upaya-upaya antisipasi terhadap bencana banjir,” kata dia.
Sedangkan Kepala BPPD Kabupaten Tangerang Ahmad Taufik menerangkan, bencana yang berpotensi terjadi di wilayah Kabupaten Tangerang adalah banjir dan angin puting beliung.
“Saat ini Pos BPPD dan Pos Pemadam Kebakaran di wilayah Kabupaten Tangerang secara umum kami siap,” ucap Taufik.
Taufik juga menjelaskan situasi banjir rob yang terjadi di wilayah Pesisir Tangerang. Hal itu menanggapi prediksi BMKG yang menyebut, gelombang laut di wilayah Kabupaten Tangerang akan mengalami kenaikan tinggi gelombang dari 0,5 sampai dengan 1,5 meter.
Kata dia, saat ini situasi banjir rob di wilayah Pantura di tiga desa wilayah Teluknaga sudah berlangsung selama lima hari dengan ketinggian air mencapai 50 sentimeter
“Saat pagi dan saat sore surut sehingga tidak ada warga yang dievakuasi,” tandasnya.