ULASAN | Under Fire: Dua Lembaga Hukum Saling Lakukan Penyamaran, Berujung Kekacauan

REDAKSI
4 Feb 2026 20:48
4 menit membaca

APA jadinya bila dua lembaga penegak hukum sama-sama melakukan aksi penyamaran? Idealnya, tentu akan menarik bila itu dilakukan dengan koordinasi dan kerja sama. Namun, bagaimana jika justru sebaliknya?

Premis itulah yang, menurut saya, menjadi fondasi film Under Fire (2025). Film berdurasi sekitar satu setengah jam ini dibintangi Dylan Sprouse sebagai Griff dan Mason Gooding sebagai Abbott. Keduanya menjadi tokoh utama yang masing-masing berperan sebagai agen FBI dan DEA.

Film bergenre laga-komedi ini disutradarai Steven C. Miller, dengan naskah yang ditulis Adrian Speckert dan Cory Todd Hughes. Selain Sprouse dan Gooding, film ini juga diperkuat oleh Odette Annable dan Emilio Rivera.

Unsur komedi dalam Under Fire tidak semata bertumpu pada situasi atau adegan. Memang ada satu momen visual—penggunaan efek gerak lambat—yang cukup mencuri perhatian. Namun selebihnya, kekuatan komedi film ini justru terletak pada dialog. Jelas terasa bahwa dialog ditulis dengan cermat untuk dua pemeran utama yang memiliki chemistry hebat.

Salah satu contoh dialog konyol adalah ketika Griff menanyakan apakah Abbott memiliki pager—alat komunikasi yang sudah lama dianggap usang. Pertanyaan itu bukan hanya ditujukan pada sosok muda, tetapi juga dilontarkan di tengah situasi genting, di bawah tekanan yang jauh dari kata aman. Humor semacam ini terasa segar sekaligus absurd.

Griff dan Abbott ditugaskan oleh lembaga masing-masing untuk menyusup ke jaringan bandar narkoba di Meksiko. Namun alih-alih berjalan sesuai rencana, misi tersebut justru membawa mereka ke situasi yang jauh lebih berbahaya dari yang dibayangkan.

Dari titik inilah cerita bergerak ke arah yang semakin kacau. Dalam kondisi terdesak, keduanya perlahan menyadari bahwa mereka bukan sekadar korban keadaan. Melainkan bagian dari permainan yang jauh lebih besar.

Situasi yang menjengkelkan—dan mengancam nyawa—membuat mereka saling menyalahkan. Bahkan melontarkan tudingan tajam soal integritas lembaga masing-masing. Griff menuding lembaga Abbott yang korup, begitu sebaliknya.

Chemistry antara Dylan Sprouse dan Mason Gooding menjadi kekuatan utama film ini. Tanpa chemistry keduanya, Under Fire mungkin akan terasa hambar dengan lelucon seadanya. Namun keduanya tampil seperti duet yang sudah terasah.

Menariknya, setahun sebelumnya mereka juga sempat terlibat dalam proyek yang sama lewat film Aftermath. Seolah takdir memang menempatkan mereka sebagai pasangan layar yang saling mengisi.

Film ini bisa dibilang minim pemeran. Penonton akan sangat sering disuguhi wajah Griff dan Abbott di layar. Namun justru di situlah keunggulannya: alih-alih membosankan, interaksi keduanya terus memancing rasa penasaran. Film ini juga cukup piawai membangun ketegangan yang sekaligus jenaka dan menyebalkan dalam waktu bersamaan.

Alih-alih fokus pada upaya menjatuhkan bandar narkoba, cerita berkembang ke arah perjuangan bertahan hidup. Situasi menjadi semakin rumit ketika muncul indikasi adanya pengkhianatan dari dalam. Pertanyaannya bukan sekadar apa yang terjadi, tetapi siapa dan dari mana sumber kekacauan itu berasal.

Sepanjang film, penonton disuguhi rentetan aksi tembak-menembak dengan presisi tinggi. Ada momen yang membuat saya teringat pada karakter Bob Lee Swagger (Mark Wahlberg) dalam film Shooter—sebuah perbandingan yang menggambarkan betapa intensnya tekanan yang dialami para tokoh. Tak heran jika sebagian besar durasi film terasa menempel pada ketegangan yang nyaris tanpa jeda.

Dan tepat ketika penonton berharap mendapat jawaban, film ini justru memilih jalur yang tidak biasa. Menjelang akhir, Under Fire memberi isyarat bahwa kekacauan yang terjadi tidak sesederhana urusan narkoba.

Ada lapisan lain yang sengaja dibiarkan samar—sebuah objek kecil yang menyertai barang bukti. Namun film tidak menjelaskan isinya, kepentingannya, ataupun siapa sebenarnya yang memburunya.

Penonton hanya digiring pada pemahaman bahwa benda tersebut menjadi alasan mengapa para tokoh diburu tanpa henti. Siapa yang memberi perintah, siapa aktor di balik layar, dan apa konsekuensi sesungguhnya dari keberadaan objek itu, semuanya dibiarkan menggantung tanpa penjelasan.

Sialnya—atau justru menariknya—pertanyaan penonton terus dibuat antiklimaks. Bahkan kemudian muncul lebih banyak pertanyaan baru. Bagi sebagian orang, hal ini mungkin terasa tidak memuaskan. Namun bagi saya, justru di situlah daya hipnotisnya. Penonton seperti dibuat pasrah, tak sepenuhnya marah pada jawaban yang tak kunjung datang.

Mungkin karena film ini mampu meracik berbagai unsur sekaligus: ketegangan, kekocakan, persahabatan, hingga getirnya pengkhianatan. Sehingga, biarlah pertanyaan-pertanyaan mengambang, tanpa harus selalu bersanding dengan jawaban.


Ditulis oleh Ahmad Romdoni