
MEL Gibson—film yang paling saya ingat darinya adalah Conspiracy Theory (1997), bersama Julia Roberts—meski saya menonton film itu beberapa tahun setelahnya. Maka saat mendapat notifikasi film terbaru Gibson berjudul Hunting Session (2025), saya tak ragu untuk langsung menontonnya.
Meski sudah tak lagi muda, pesona Gibson tetap memancar. Dia berperan sebagai Bowdrie, seorang ayah yang tinggal hanya berdua dengan putrinya, Tag (Sofia Hublitz), di tengah hutan—jauh dari segala keramaian.
Bowdrie setiap hari mengajari putrinya berburu atau memancing. Sesekali dia mengajarkan cara menggunakan kapak untuk membelah kayu bakar. Mungkin karena faktor usia, Bo—begitu Tag memanggilnya—menjadi sosok yang religius. Dia selalu berdoa dengan tulus sebelum makan atau tidur. Doanya pun selalu sama: meminta Tuhan melindungi putrinya, Tag.
Suatu hari, Tag yang sedang memancing menemukan seorang wanita yang nyaris tewas bernama January (Shelley Hennig). January ditembak oleh kartel pimpinan Alejandro (Jordi Mollà). Tag pun menolong January dengan membawanya pulang. Bersama Bo, Tag merawat dan mengobati January. Tag begitu senang dengan kehadiran January, mengingat dia sangat merindukan sosok ibu.
Kabar bahwa January masih hidup sampai ke telinga Alejandro. Dia pun mengutus anak buahnya untuk memburu January yang sedang dalam perawatan di rumah Bo dan Tag.
Pertempuran pun tak terelakkan—cukup intens dan menegangkan. Situasi makin runyam dengan keterlibatan polisi korup yang justru membantu Alejandro, alih-alih melindungi masyarakat.
Alur Hunting Session berjalan cepat, meski pada akhirnya terasa mudah ditebak. Tak masalah—bukankah film-film Gibson memang sering demikian. Bedanya, di Hunting Session, alurnya terasa lebih gamblang. Berbeda dengan On the Line, yang juga cepat dan menegangkan, tetapi mampu membuat penonton terjebak.
Akting Gibson masih memukau. Dia berhasil memerankan sosok pria tua yang hidup penuh kewaspadaan di tengah hutan, dengan satu tekad utama: melindungi putrinya—satu-satunya hal paling berharga yang dia miliki. Di saat bersamaan, dia juga tetap bersedia melindungi orang lain yang berada dalam bahaya.
Adegan-adegan aksi di film ini berlangsung singkat. Duel disajikan tanpa banyak basa-basi. Mungkin hendak menegaskan karakter Bowdrie sebagai sosok berpengalaman yang tahu kapan harus bergerak cepat dan kapan harus bertahan.
Dalam banyak film aksi, jagoan biasanya akan dengan mudah menumbangkan anak buah musuh, tak peduli berapa pun jumlahnya. Namun saat berhadapan dengan penjahat utama, dia akan dibuat kewalahan, nyaris mati, sebelum akhirnya, ada saja cara yang membuat jagoan menang.
Di Hunting Session, pola itu agak berbeda. Konfrontasi, termasuk dengan antagonis utama mengambil jalur yang berbeda dari pakem film aksi pada umumnya, dengan pilihan penyelesaian yang mungkin akan mengejutkan sebagian penonton.
Kredit patut diberikan kepada Jordi Mollà. Aktor yang kerap menjadi spesialis peran antagonis ini tampil meyakinkan sebagai kartel yang kejam, brutal, edan, dan menjengkelkan. Karakternya mengingatkan pada perannya sebagai Hector di Bad Boys II atau Marco di Colombiana.
Pada akhirnya, Hunting Session layak direkomendasikan bagi penonton yang ingin menikmati film aksi dengan cerita yang lugas, tidak njelimet, dan tidak bertele-tele. Dengan durasi sekitar 1 jam 40 menit dan ritme cerita yang sat-set, film ini terasa ringan dan cepat berlalu—tahu-tahu sudah sampai di akhir.
Ditulis oleh Ahmad Romdoni