Radikalisme Mengintai Pelajar, Wabup Tangerang Tekankan Pendidikan Karakter dan Literasi Digital

REDAKSI
3 Feb 2026 18:06
2 menit membaca

WAKIL Bupati Tangerang Intan Nurul Hikmah menegaskan, paham radikalisme masih menjadi ancaman nyata bagi generasi muda, khususnya pelajar.

Pernyataan itu disampaikan saat membuka kegiatan Sinergi Lintas Sektor Pencegahan Radikalisme di Gedung Serbaguna (GSG) Puspemkab Tangerang, Tigaraksa, Selasa (3/2/2026).

“Karena kerap menyusup secara halus melalui informasi menyesatkan dan media digital,” kata Intan.

Menurut Intan, benteng paling kuat untuk mencegah paham radikal adalah penguatan pendidikan karakter. Kemudian dibarengi dengan keteladanan dan nilai-nilai kebangsaan. Hal itu, lanjut dia, harus ditanamkan sejak dini di lingkungan sekolah.

“Radikalisme tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan, tetapi sering masuk secara halus melalui informasi menyesatkan dan ujaran kebencian,” tegasnya.

Dia menekankan, pencegahan radikalisme tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah. Dia menyebut, hal itu turut menjadi tanggung jawab dunia pendidikan, keluarga, tokoh agama, serta tokoh masyarakat.

“Para pelajar sendiri harus terlibat aktif sebagai bagian dari upaya perlindungan kelompok rentan,” ujar Ketua Partai Golkar Kabupaten Tangerang ini.

Intan juga menyoroti pentingnya literasi digital di kalangan pelajar. Di era gawai dan media sosial, ujar dia, konten radikal, intoleran, dan ujaran kebencian (hate speech) sangat mudah diakses dan disebarluaskan.

Pada sisi lain, dia melanjutkan, orang tua tidak bisa sepenuhnya membatasi anak mengakses informasi digital.

“Yang bisa kita lakukan adalah membekali mereka dengan pemahaman agar bijak menggunakan media sosial,” ujarnya.

Intan menegaskan, sinergi lintas sektor menjadi kunci menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan kondusif. Ketika semua elemen berjalan bersama, maka ruang gerak paham-paham yang merusak persatuan akan semakin sempit.

Dia pun berharap, kegiatan pencegahan radikalisme tidak bersifat seremonial. Tetapi dilakukan secara berkelanjutan dan berjenjang sebagai upaya deteksi dini. Serta agar paham radikalisme di Kabupaten Tangerang tidak mendapat ruang.

Kegiatan tersebut diikuti guru pendamping dan perwakilan siswa SMA/SMK se-Kabupaten Tangerang, dengan menghadirkan narasumber dari Densus 88, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta lembaga sosial tingkat Provinsi Banten. (don)