
ADRENALIN Anda sepertinya akan langsung terpacu bahkan sejak scene awal. Riff gitar energik dari Slash dan vokal khas Axl Rose lewat lagu legendaris nan ikonik Paradise City mengantar penonton memasuki dunia penuh ketegangan—namun tetap dibalut kejenakaan.
Inilah The Wrecking Crew (2026), film yang menempatkan Dave Bautista dan Jason Momoa sebagai dua bintang utama. Bayangkan dua pria bertubuh kekar, garang, tapi konyol, berada dalam satu layar. Apa jadinya? Kekacauan—tentu saja.
Film ini, menurut saya, tampil menawan sejak awal. Pemilihan soundtrack terasa seperti penegasan karakter dua tokoh utama yang sama-sama menyimpan “sisi gelap” nan barbar.
Selain Paradise City, deretan lagu lain yang mengisi film ini antara lain Eyes Without a Face (Billy Idol), Making Love Out of Nothing at All (Air Supply), Ordinary World (Duran Duran), hingga Take Me Home (Phil Collins).
Di film ini, Bautista berperan sebagai James Hale, seorang tentara Angkatan Laut (Navy SEAL) yang kekar, tangguh, disiplin, dan cenderung dingin. Sementara Momoa memerankan Jonny Hale, polisi reserse yang flamboyan, urakan, dan selalu merasa dirinya paling hebat.
Anda tidak salah baca. Nama belakang karakter yang dimainkan Bautista dan Momoa sama: Hale. Keduanya memang dikisahkan sebagai kakak-beradik. James sebagai kakak tampil lebih kalem dan terkendali. Sebaliknya, Jonny adalah adik yang ceroboh, menyebalkan, dan sulit ditebak.
Hubungan mereka jauh dari kata harmonis. Jonny meninggalkan kampung halaman di Hawaii karena sebuah kekecewaan. Dua puluh tahun lamanya mereka tak bersua, bahkan tak saling menyapa. Hingga sebuah peristiwa tragis menimpa ayah mereka—yang tewas tertabrak, atau mungkin memang sengaja ditabrak, sebuah minivan.
Alih-alih memperbaiki hubungan, kakak-adik yang lama renggang ini justru makin saling bersikap sinis. Bukannya berdamai dengan kepergian sang ayah, keduanya terjebak dalam pertikaian emosional.
Bayangkan dua “raksasa” dengan ego masing-masing saling berhadapan—sudah pasti seru. Namun seperti keluarga pada umumnya, selalu ada titik tertentu yang memaksa mereka kembali berada di sisi yang sama.
Seiring cerita berjalan, konflik berkembang tak lagi sekadar soal mencari kebenaran di balik kematian sang ayah—yang awalnya diyakini James sebagai tabrak lari.
Dinamika cerita menjadi makin hidup dan kocak, terutama ketika dalam proses investigasi mereka bertemu Pika, sosok botak yang diperankan Jacob Batalon. Ya, aktor yang sama yang dikenal sebagai sahabat Spider-Man versi Tom Holland itu.
Dari titik ini, skala cerita perlahan melebar. Apa yang mereka hadapi bukan lagi perkara personal semata, tetapi menyeret persoalan yang jauh lebih besar—mulai dari nasib kota, korupsi pejabat, hingga keterlibatan kelompok kriminal Jepang yang digambarkan cukup mengerikan.
Meski ini menjadi debut Bautista dan Momoa tampil bersama dalam satu film, chemistry keduanya terasa solid. Adegan demi adegan mengalir dengan ritme yang pas, ditopang dialog yang tajam. Beberapa dialog—terutama yang dilontarkan Momoa—berulang kali berhasil memancing tawa.
Karena itu, jangan remehkan dialog yang terdengar seperti selipan. Bisa jadi justru di situlah kunci memahami arah cerita. Naskah dialog ditulis dengan cerdas dan jenaka, lengkap dengan roasting menggunakan nama-nama populer seperti Jackie Chan, Naruto, hingga Van Damme—gaya humor khas film aksi Hollywood.
Meski demikian, harus diakui bahwa secara plot, film ini relatif mudah ditebak. Penonton tampaknya tidak akan terlalu kesulitan mengidentifikasi karakter yang tampak baik namun menyimpan agenda lain.
Catatan yang agak mengganggu muncul di beberapa adegan aksi berintensitas tinggi. Meski memang seru dan mendebarkan, skala kehancuran terasa berlebihan. Banyak warga sipil menjadi korban, kendaraan hancur, namun nyaris tak terlihat refleksi rasa bersalah dari para protagonis. Ini sedikit bertabrakan dengan tujuan moral mereka yang digambarkan ingin menyelamatkan kota.
Ada pula detail kecil yang terasa janggal dan mungkin luput dari perhatian sutradara Ángel Manuel Soto maupun penulis naskah Jonathan Tropper—misalnya adegan hujan di tengah cuaca sekitar yang tampak cerah. Untungnya, hal ini tergolong minor dan tidak benar-benar merusak pengalaman menonton.
Film ini juga memberi kesan seolah membuka ruang untuk kelanjutan cerita. Beberapa hal dibiarkan menggantung, seakan sengaja tidak dijelaskan sepenuhnya. Bisa jadi, pembuat film tengah menunggu respons penonton sebelum memutuskan melangkah lebih jauh.
Yang jelas, The Wrecking Crew tidak berambisi menjadi film yang sok cerdas atau terlalu perfeksionis. Film ini tahu persis apa yang ingin ditawarkan: hiburan murni. Dan sutradara paham betul cara mencapainya.
Karena itu, film ini cocok ditonton saat Anda ingin bersantai, tetapi tetap menginginkan aksi memukau dan tawa di waktu bersamaan. Pilihan pas untuk hiburan akhir pekan.
Ditulis oleh Ahmad Romdoni