Pasar Properti Stabil, Sinar Mas Land Luncurkan Klaster Livia di Ladoria Grand Wisata Bekasi

REDAKSI | Doni
REDAKSI | Doni
13 Agu 2026 14:41
3 menit membaca

PASAR properti nasional masih menunjukkan tren positif pada 2026. Kondisi tersebut mendorong pengembang kembali memperkuat penawaran hunian. Terutama di kawasan dengan konektivitas dan fasilitas yang terus berkembang.

Berdasarkan survei Rumah123 pada Juli 2026, harga rumah nasional tumbuh sekitar 1,1 persen secara tahunan (year-on-year). Pertumbuhan yang relatif terkendali tersebut menunjukkan pasar properti masih berada dalam kondisi stabil.

Bekasi menjadi salah satu kawasan yang dinilai memiliki prospek menarik, khususnya di koridor timur Jakarta. Momentum tersebut dimanfaatkan Sinar Mas Land untuk meluncurkan klaster residensial terbaru, Livia, di kawasan Ladoria Grand Wisata Bekasi.

Peluncuran Livia dilakukan setelah klaster sebelumnya, Dovia di kawasan Ladoria, yang terjual habis dalam waktu singkat. Klaster terbaru ini menyasar keluarga yang membutuhkan hunian dengan ruang lebih luas sekaligus memiliki potensi nilai investasi.

CEO of Residential National Sinar Mas Land, Prasetijo Tanumihardja mengatakan, respons pasar terhadap produk residensial di Grand Wisata Bekasi menunjukkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap kawasan kota mandiri yang berkembang secara berkelanjutan.

“Keberhasilan klaster sebelumnya yang terjual habis dalam waktu singkat mendorong kami untuk kembali menghadirkan Klaster Livia sebagai hunian modern yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan keluarga modern akan ruang tinggal yang nyaman, berkualitas, dan bernilai investasi,” kata Prasetijo.

Klaster Livia dibangun di atas lahan seluas 3,2 hektare dengan total 146 unit. Hunian ini ditawarkan dengan kisaran harga Rp2 miliar hingga Rp3 miliaran.

Livia mengusung arsitektur bergaya mediterania yang dipadukan dengan sentuhan natural dan modern. Tersedia tiga tipe hunian, yakni Livia 7 dengan luas tanah 84 meter persegi dan luas bangunan 97 meter persegi; Livia 8 dengan luas tanah mulai 96 meter persegi dan luas bangunan hingga 136 meter persegi; serta Livia 9 dengan luas tanah 153 meter persegi dan luas bangunan 160 meter persegi.

Setiap unit dilengkapi 3 hingga 4+1 kamar tidur dan carport berkapasitas hingga tiga mobil. Konsep tersebut dirancang untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang mengutamakan ruang, kenyamanan, dan fungsi.

Daya tarik Livia tidak hanya berasal dari desain dan spesifikasi rumah. Lokasinya berada di dalam ekosistem Grand Wisata Bekasi yang telah dilengkapi berbagai fasilitas penunjang kebutuhan sehari-hari.

Di kawasan tersebut tersedia Living World, Sport Club, Go Wet! Waterpark, Pasar Modern, serta berbagai area komersial. Sejumlah fasilitas baru juga akan hadir, di antaranya Farmtopia by Dairyland Cimory Group dan The Quantis Club sebagai fasilitas olahraga baru.

Untuk kebutuhan pendidikan, penghuni memiliki akses ke sejumlah institusi seperti Sekolah Al-Azhar, IPEKA, dan Notre Dame. Sekolah Al Wildan Islamic School juga direncanakan hadir di kawasan tersebut.

Sementara untuk layanan kesehatan, tersedia sejumlah rumah sakit seperti Mitra Keluarga, Hermina, dan Eka Hospital.

Dari sisi konektivitas, Livia berada di sisi barat Grand Wisata Bekasi dengan akses menuju Tol JORR 2 melalui Gerbang Tol Setu Utara. Kawasan ini juga dapat dijangkau melalui Tol Jakarta-Cikampek melalui Gerbang Tol Tambun.

Prospek kawasan semakin diperkuat dengan berbagai pembangunan infrastruktur strategis di koridor timur Jabodetabek, termasuk Tol Becakayu, Kereta Cepat Jakarta-Bandung, LRT Jabodebek, serta rencana jalur MRT Cikarang-Balaraja.

Pengembangan infrastruktur tersebut dinilai berpotensi memperkuat konektivitas Bekasi dengan Jakarta dan wilayah sekitarnya, sekaligus menjadi salah satu faktor yang mendukung prospek nilai properti di kawasan.

“Didukung lokasi strategis, konektivitas yang terus berkembang, serta ekosistem kota mandiri yang lengkap, kami optimistis Klaster Livia akan semakin memperkuat posisi Grand Wisata Bekasi sebagai salah satu destinasi hunian yang prospektif di koridor timur Jabodetabek,” pungkas Prasetijo. (*)