Gambar ilustrasi dibuat menggunakan AI.Oleh Abu Hidzriyan Al-Bantany
—–
Lensametro.com — Siang itu suasana di sebuah SPBU berubah panas. Seorang pengendara menyerobot antrean BBM, lalu cekcok dengan pengendara lain. Beberapa ibu yang sudah mengantre dari tadi merasa tersinggung, dan keributan pun terjadi hingga adu mulut, sampai dilerai oleh petugas SPBU.
Saya yakin Anda juga pernah menyaksikan momen seperti itu, bukan? Kita sering lupa bahwa antre bukan sekadar menunggu giliran, tetapi juga menunjukkan adab seorang Muslim di ruang publik.
Sebagai Muslim, kita sering diajarkan untuk menghormati hak orang lain. Ketika kita mengantre dengan tertib, itu berarti kita menghargai hak orang yang datang lebih dulu. Selain itu, kita menunjukkan kesadaran bahwa hidup ini tidak hanya tentang kita, setiap orang juga sama pentingnya. Hal sederhana seperti antre ini justru bisa mengukur sebaik apa akhlak seorang Muslim.
Antre menjadi bukti nyata bahwa seseorang mampu mengendalikan egonya dan menghormati hak orang lain. Di tempat umum, siapa pun bisa saja merasa dirinya paling sibuk dan paling perlu dilayani lebih dulu. Tetapi, disiplin dalam antre justru menunjukkan keimanan yang matang karena kita rela menahan diri demi menjaga etika sosial.
Antre berkaitan erat dengan akhlaqul karimah, karena kita mengutamakan adab daripada dorongan ingin menang sendiri. Islam mengajarkan kita untuk berlaku adil, menyayangi sesama, dan tidak merebut hak orang lain. Ketertiban saat mengantre berada dalam satu napas dengan ajaran itu.
Kesabaran bukan hanya teori dalam buku Ihya Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali. Kesabaran nyata justru diuji melalui hal-hal kecil dalam hidup, termasuk saat antre. Setiap kali menunggu giliran, Anda sedang melatih hatimu untuk lebih sabar dan lebih dewasa.
Selain kasus di SPBU tadi, budaya tidak tertib antre juga muncul di berbagai kegiatan. Saat pembagian sembako, misalnya. Banyak orang berebut hingga mendorong satu sama lain karena ingin dapat duluan. Bahkan, naik bus kota atau naik kereta pun orang berebut karena masing-masing ingin mendapatkan tempat duduk. Semua ini menunjukkan bahwa budaya antre masih perlu ditanamkan kuat dalam masyarakat.
Pertama, kita harus mulai dari rumah. Ajari anak untuk menunggu giliran, baik saat bermain maupun saat makan. Kedua, kita bisa memberi contoh langsung kepada anak di tempat umum, karena anak lebih mudah meniru daripada mendengar nasihat. Ketiga, kita bisa membangun kebiasaan antre di masjid ketika mengambil sandal sepulah salat berjamaah, saat mengambil wudu, atau saat mengambil bingkisan Jumat Berkah. Selain itu, kita bisa mendukung penggunaan digital queue system di pelayanan publik agar antre menjadi nyaman dan transparan.
Budaya antre bukan sekadar kebiasaan manusia modern, melainkan cerminan adab dan akhlak seorang Muslim di ruang publik. Jika kita memulainya dari hal kecil, kaum Muslim akan menjadi penggerak ke arah masyarakat yang makin tertib dan berakhlak indah. [LM]