
BAU menyengat di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin kembali menjadi perhatian. Pada peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), Rabu (18/2/2026), Bupati Tangerang Maesyal Rasyid turun ke TPA yang berada Kecamatan Mauk itu.
Dia menanam bambu dan menyiramkan ecoenzym sebagai langkah penanganan bau dan pencemaran. Penanaman bambu diklaim sebagai barrier alami untuk membantu menyerap bau. Dekaligus menahan hembusan angin yang membawa aroma tak sedap ke permukiman.
“Sementara penyiraman ecoenzym ke sumur pantau kita lakukan untuk menurunkan kadar E.Coli dan membantu menetralisir kualitas air tanah,” ujar Maesyal.
Langkah penyiraman ecoenzym dilakukan menyasar sumur pantau air tanah di sekitar TPA. Maesyal menegaskan, TPA Jatiwaringin mesti dikelola dengan standar lingkungan yang ketat.
“Kita tidak ingin masyarakat terus terdampak,” tegas Maesyal.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Tangerang Ujat Sudrajat mengklaim, metode tersebut mulai menunjukkan hasil.
Dia bilang, data DLHK mencatat adanya penurunan kadar E.Coli secara signifikan setelah dua bulan aplikasi ecoenzym. Ujat menyebut, angka E.Coli yang sebelumnya mencapai 8.300 per 100 ml turun menjadi 134 per 100 ml.
“Program ini akan kami lanjutkan hingga enam bulan ke depan dengan pemberian rutin setiap bulan,” ujarnya.
Persoalan TPA Jatiwaringin tidak hanya masalah bau dan kualitas air. Lokasi tersebut juga telah ditetapkan sebagai calon pusat pengolahan sampah menjadi energi listrik.
Pemkab Tangerang menyebut telah menyiapkan lahan 6,5 hektare, menjamin pasokan minimal 1.000 ton sampah per hari—yang saat ini bahkan mencapai sekitar 2.700 ton per hari—serta melakukan pematangan lahan.
Tapi, di tengah rencana ambisius itu, masyarakat berharap persoalan elementer seperti bau dan dampak lingkungan benar-benar tertangani secara permanen, bukan sekadar solusi jangka pendek. (don)