ULASAN | Thunderstruck Cop: Saat Polisi Duda-Pemalas Disambar Petir

REDAKSI
2 Feb 2026 17:04
3 menit membaca

PERNAH dengar sumpah serapah “disambar petir”? Ungkapan itu biasanya hanya metafora untuk menggambarkan pembalasan instan akibat perbuatan buruk, kebohongan, atau melanggar janji.

Namun di film, tersambar petir tak selalu berarti petaka. Di Indonesia, hampir semua orang mengenal karakter Gundala—superhero yang justru mendapatkan kekuatan super setelah tersambar petir. Alih-alih gosong atau kehilangan nyawa, ia malah menjadi pahlawan.

Versi film Gundala diperankan Abimana Aryasatya sebagai petugas sekuriti yang hidupnya lapuk dan putus asa, sebelum kemudian berubah menjadi pembela kebenaran usai mendapat kekuatan dari petir.

Di Korea Selatan, kisah serupa hadir dengan pendekatan berbeda melalui film Thunderstruck Cop (2025). Kali ini, yang tersambar petir adalah seorang polisi bernama Min Hyun-joon (Shin Hyun-joon). Dia dikenal sebagai polisi pemalas, selalu datang terlambat, dan berujung pada penurunan pangkat. Hidupnya kian hambar sejak sang istri meninggal dunia.

Min yang duda tinggal bersama ibunya yang membuka rumah makan sundae. Sejak kepergian istrinya, hubungan Min dengan putrinya, Hye Rui (Chae Si Yeon), memburuk.

Sang anak memilih bungkam dan menjaga jarak. Hidup Min pun makin suram, dihabiskan dengan begadang dan alkohol. Kondisi ini membuat kinerjanya sebagai polisi terus merosot.

Suatu malam, sebuah peristiwa tak terduga mengubah hidup Min. Dia tersambar petir dan mulai mengalami perubahan aneh. Namun kekuatan yang dia peroleh bukan tipe superpower konvensional—cenderung absurd dan cara menggunakan kekuatan super itu bagi saya cukup konyol.

Seiring berjalannya waktu, Min menyadari bahwa dia bukan satu-satunya yang mengalami kejadian ganjil tersebut. Dari sinilah cerita berkembang, mempertemukan Min dengan karakter lain yang mengalami nasib serupa, tapi dengan model kekuatan super yang berbeda.

Bayangkan kira-kira kekuatan seperti apa yang bisa dimiliki seseorang setelah tersambar petir. Dengan “bekal” itulah, Min—yang selama bertahun-tahun menjadi bahan olok-olok—perlahan menemukan kembali harga dirinya sebagai polisi.

Film ini berada di jalur laga komedi. Seperti kebanyakan film Korea Selatan dengan genre serupa, Thunderstruck Cop menyelipkan humor lewat dialog dan situasi absurd. Beberapa adegan cukup menghibur, meski tidak selalu berhasil membuat penonton terpingkal.

Alurnya sederhana dan relatif mudah ditebak. Padahal, premis polisi yang tersambar petir sebenarnya cukup menjanjikan. Sayangnya, sutradara Kim Young-jun tampak kurang mengeksplorasi potensi cerita. Film ini seolah berhenti di level “cukup”, tanpa berani bermain lebih jauh dengan ketegangan atau kejutan.

Konflik ayah dan anak terasa kurang digali secara emosional. Sementara ancaman dari pihak antagonis juga tidak terlalu menonjol. Jangan membayangkan kejahatan berskala besar atau taruhannya adalah keselamatan banyak orang. Inilah yang membuat film “superhero” ini terasa lebih dekat ke drama keluarga ringan.

Ada satu hal lain yang cukup mencuri perhatian: kemunculan minuman energi yang terlalu sering dan terasa signifikan. Namun film tak pernah benar-benar menjelaskan mengapa minuman tersebut begitu penting. Sulit untuk tidak curiga bahwa ada unsur promosi di sana.

Namun sudahlah. Secara keseluruhan, Thunderstruck Cop tetap layak ditonton, terutama bagi penonton yang mencari film laga komedi dengan cerita ringan dan tidak njelimet.

Setidaknya, film ini mengajarkan satu hal: petir tak pilih-pilih target—bahkan polisi pun bisa tersambar, apalagi polisi pemalas.


Ditulis oleh Ahmad Romdoni