Sinar Mas Land Hadirkan Ruby at The Ridge, Bidik Konsumen Hunian Sub-Urban

REDAKSI | Doni
REDAKSI | Doni
4 Sep 2026 17:59
4 menit membaca

PASAR rumah tapak di kawasan Jabodetabek masih menunjukkan tren positif sepanjang 2026. Di tengah konsumen yang semakin selektif, kawasan sub-urban menjadi salah satu penopang utama permintaan hunian.

Berdasarkan riset Leads Property, penjualan rumah tapak di Jabodetabek mencapai 2.585 unit pada kuartal II 2026. Dengan tingkat penjualan atau sales rate sebesar 93,7 persen. Leads Property juga memproyeksikan permintaan rumah tapak di kawasan tersebut hingga akhir tahun berada pada kisaran 12.000–13.000 unit.

Data tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap hunian tapak masih terjaga. Namun, keputusan pembelian kini tidak hanya ditentukan oleh harga, melainkan juga mempertimbangkan kemudahan akses, kualitas lingkungan, desain bangunan, serta fasilitas yang tersedia dalam kawasan.

Tren tersebut turut membuka peluang bagi kawasan timur Jabodetabek, termasuk Cileungsi, Kabupaten Bogor. Wilayah ini menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat yang mencari hunian di luar pusat perkotaan dengan dukungan konektivitas menuju Cibubur, Bekasi, dan Jakarta.

Melihat peluang tersebut, Sinar Mas Land menghadirkan Ruby at The Ridge di kawasan Harvest City, Cileungsi–Cibubur, Jawa Barat. Klaster terbaru ini mengusung konsep New Luxurious Design dengan gaya arsitektur American Classic.

Deputy Group CEO Strategic Development and Assets Sinar Mas Land, Herry Hendarta mengatakan, Ruby at The Ridge dirancang untuk menjawab kebutuhan keluarga modern, yang tidak hanya mencari tempat tinggal, tetapi juga mempertimbangkan karakter desain dan kualitas lingkungan.

“Kehadiran Ruby at The Ridge merupakan bagian dari upaya Harvest City dalam menghadirkan pilihan hunian yang memadukan karakter desain, kenyamanan, aksesibilitas, serta lingkungan yang asri bagi keluarga modern,” ujar Herry belum lama ini.

Menurutnya, rumah kini semakin dipandang sebagai bagian dari gaya hidup dan cerminan karakter penghuninya. Oleh karena itu, desain menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam pengembangan klaster tersebut.

Konsep American Classic pada Ruby at The Ridge ditampilkan melalui fasad yang proporsional dan garis bangunan yang tegas. Serta elemen arsitektur yang dirancang agar tetap relevan dalam jangka panjang.

Atap berwarna hitam menjadi salah satu elemen khas yang memperkuat karakter bangunan. Sementara jendela berukuran lebar dirancang untuk memaksimalkan pencahayaan alami.

Ruby at The Ridge dibangun sebanyak 147 unit di atas lahan seluas 3,1 hektare. Hunian tersebut dipasarkan dengan harga mulai Rp1,3 miliar.

Klaster ini menawarkan dua pilihan tipe rumah, yakni Tipe 6 dan Tipe 7, dengan perbedaan luas tanah, luas bangunan, serta kapasitas ruang.

Tipe 6 memiliki luas tanah 78 meter persegi dan luas bangunan 91 meter persegi. Hunian ini dilengkapi 3+1 kamar tidur, dua kamar mandi, serta satu carport.

Sementara itu, Tipe 7 memiliki luas tanah 105 meter persegi dan luas bangunan 106 meter persegi. Tipe tersebut menyediakan 3+1 kamar tidur, tiga kamar mandi, serta dua carport.

Dari sisi fasilitas kawasan, Ruby at The Ridge dilengkapi underground utility untuk menjaga kerapian lingkungan, Ridge Club House sebagai fasilitas aktivitas dan rekreasi penghuni, serta sistem keamanan yang didukung CCTV dan one gate system.

Fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya pengembang menawarkan lingkungan hunian yang tidak hanya berorientasi pada bangunan, tetapi juga kenyamanan dan aktivitas penghuni.

Ruby at The Ridge berada di kawasan Harvest City, sebuah township yang dikembangkan di atas lahan seluas 1.400 hektare. Kawasan ini diposisikan sebagai lingkungan hunian yang menggabungkan kebutuhan tempat tinggal, fasilitas, dan akses menuju sejumlah pusat aktivitas di sekitarnya.

Harvest City memiliki konektivitas menuju beberapa gerbang tol strategis, antara lain Pintu Tol Jatikarya, Pintu Tol Nagrak Kota Wisata, dan Pintu Tol Narogong dari arah selatan, serta Pintu Tol Burangkeng dari arah utara.

Akses tersebut mendukung mobilitas penghuni menuju kawasan Cibubur, Bekasi, hingga Jakarta. Dengan demikian, pengembangan hunian di kawasan sub-urban tidak hanya mengandalkan harga dan desain, tetapi juga kemampuan kawasan dalam menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat.

Herry mengatakan kombinasi desain, kenyamanan, aksesibilitas, dan lingkungan menjadi pertimbangan penting dalam menghadirkan produk hunian bagi keluarga modern.

“Kami melihat bahwa preferensi konsumen terhadap hunian terus berkembang,” ujarnya.

Rumah, kata dia, kini tidak hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup dan cerminan karakter penghuni.

Di tengah pasar rumah tapak yang masih tumbuh, persaingan antarkawasan pun semakin ditentukan oleh kemampuan pengembang menghadirkan hunian yang sesuai dengan kebutuhan konsumen, bukan sekadar menawarkan bangunan baru. (*)