Digempur Online Shop dan Pasar Tumpah, Pasar Gudang Tigaraksa Kian Terjepit

REDAKSI | Doni
REDAKSI | Doni
1 Sep 2026 19:38
3 menit membaca

PASAR Gudang Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, menghadapi tekanan dari dua arah sekaligus. Di satu sisi, pedagang harus berhadapan dengan pergeseran pola belanja masyarakat ke platform daring. Di sisi lain, keberadaan pasar tumpah pada akhir pekan disebut ikut menggerus pembeli pasar tradisional.

Dampaknya mulai terasa. Dari sekitar 350 pedagang yang beraktivitas di Pasar Gudang Tigaraksa, hampir separuhnya disebut telah gulung tikar. Kondisi paling parah terjadi di lantai dua yang didominasi pedagang pakaian.

Pengelola Pasar Gudang Tigaraksa, Acep Jayadiwira mengatakan, pedagang sektor sandang menjadi kelompok yang paling terpukul karena sulit bersaing dengan harga dan kemudahan transaksi melalui media sosial maupun toko daring.

“Kalau di lantai dua itu bener-bener parah lah, karena kita nggak bisa bersaing dengan online,” ujar Acep, Selasa (1/9/2026).

Namun, persoalan pedagang tidak berhenti pada persaingan dengan toko online. Pasar kaget atau pasar tumpah yang beroperasi setiap akhir pekan disebut turut mengambil pelanggan pasar Gudang Tigaraksa.

Menurut Acep, kondisi tersebut paling terasa pada hari Minggu yang semestinya menjadi salah satu waktu paling ramai bagi pedagang pasar tradisional.

“Pada hari Minggu yang seharusnya menjadi momentum panen bagi pedagang pasar, sekitar 70 persen pembeli justru beralih ke pasar dadakan,” ujarnya.

Acep mengatakan keberadaan pasar tumpah tersebut terutama terlihat pada kawasan sekitar RSUD Tigaraksa hingga area Pemkab Tangerang.

Kondisi itu, menurutnya, membuat pedagang pasar resmi harus bersaing dengan aktivitas perdagangan yang berlangsung di luar kawasan pasar.

Pihak pengelola pun mengaku telah berkoordinasi dengan Satpol PP Kabupaten Tangerang untuk mencari solusi atas persoalan tersebut.

“Jangan sampai hari Minggu yang tadinya pedagang pasar bisa panen, akhirnya pembeli 70 persen ke sana semua,” tambahnya.

Di tengah tekanan tersebut, pengelola Pasar Gudang Tigaraksa sebenarnya telah mencoba mendatangkan kembali masyarakat dengan berbagai kegiatan. Mulai dari menggelar gantangan atau lomba burung berkicau hingga senam pagi rutin setiap Minggu di area pasar.

Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya mampu mengubah persoalan mendasar yang dihadapi pedagang.

Tekanan juga datang dari munculnya kompetitor baru. Acep menyebut keberadaan Pasar Sodong yang diduga dikelola pihak swasta turut menambah ketat persaingan perdagangan di kawasan tersebut.

Dia pun mempertanyakan kebijakan pendirian pasar tradisional baru yang lokasinya berdekatan dengan pasar yang telah dikelola badan usaha milik daerah.

Menurutnya, pemerintah daerah perlu melihat persoalan pasar secara lebih menyeluruh. Jangan sampai pasar yang dikelola BUMD justru kehilangan daya hidup karena tidak diimbangi dengan pengaturan terhadap aktivitas perdagangan di sekitarnya.

“Harusnya pemerintah meninjau ulang. Buat apa ada pasar tradisional yang dikelola sama BUMD kalau mudah banget mendirikan pasar-pasar (baru) seperti itu. Regulasinya yang harus ditekankan oleh pemerintah daerah,” pungkasnya.