Gambar ilustrasi dibuat dengan bantuan AIALKISAH, Napoleon, babi hitam jenis Berkshire telah menjadi pemimpin. Keberhasilan meraih kekuasaan diperolehnya dengan cara licik. Babi hutan bertampang garang, berwatak munafik, penghasut, dan egois itu berhasil merengkuh kekuasaan setelah memfitnah Snowball. Lalu melakukan serangan brutal menggunakan tenaga sembilan ekor anjing.
Tulisan ini adalah tulisan saya yang keempat yang terinspirasi dari novel Animal Farm karya George Orwell. Saya sangat merekomendasikan novel fabel alegori politik ini. Novel ini pertama kali terbit pada 17 Agustus 1945, bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Napoleon pandai menyembunyikan nafsu serakahnya di balik kata-kata yang manis. Ditambah propaganda dari Squealer, babi yang ditunjuk menjadi juru bicara Napoleon. Melalui bacot Squealer, kemunafikan dan kebusukan Napoleon berubah menjadi kisah heroik. Squealer pandai berbicara sekaligus menjilat.
Sebagai pemimpin, Napoleon tampak demokratis. Dia memanipulasi demokrasi dengan struktur yang seolah-olah setara. Namun di baliknya bekerja agitator yang menebaekan teror dan juga sensor.
Napoleon memang mengadakan pertemuan publik, tetapi hanya untuk mengesahkan keputusannya secara sepihak dan untuk menindas. Itulah yang dilakukan Napoleon saat dia memaksa Snowball meletakkan jabatan, dalam sebuah pertemuan palsu.
Bersama sembilan ekor anjing yang setia mengawal, Napoleon mengadakan pertemuan, kita sebut saja musyawarah. Agar tampak demokratis dan seolah aspirasi lahir dari akar rumput, Napoleon memanipulasi sekelompok individu tolol.
Sekelompok individu tolol itu kemudian diarahkan oleh Napoleon untuk menyebarkan tuduhan. Lalu seolah-olah sekelompok individu tolol itu datang kepada Napoleon meminta keadilan. Maka Napoleon pun memiliki dasar untuk melaksanakan pertemuan.
Namun jangan bayangkan pertemuan tersebut berlangsung adil, terbuka, transparan, dan objektif. Sembilan ekor anjing yang ditugasi Napoleon menjadi panitia pertemuan sudah mengatur sedemikian rupa musyawarah abal-abal itu.
Sembilan ekor anjing itu mengubah pertemuan yang seharusnya terbuka untuk umum menjadi semacam rapat terbatas komite khusus yang sepenuhnya dikendalikan untuk menyebarkan propaganda. Dan tentu untuk meluluskan keputusan yang sebenarnya sudah disiapkan sebelumnya.
Di forum seperti itu, prosedur hanya menjadi dekorasi. Aturan dibaca sekadarnya, keberatan dianggap biasa saja, sementara keputusan sudah lebih dahulu menemukan kesimpulannya. Musyawarah tidak lagi menjadi ruang mencari kebenaran, melainkan sekadar panggung untuk mengesahkan kehendak penguasa.
Mengapa harus ada musyawarah?
Napoleon berwatak licik. Dia tidak mau citra sebagai pemimpin yang merakyat menjadi rusak karena sebuah keputusan. Oleh karena itu, diadakan pertemuan agar keputusan sepihak yang sudah dia siapkan seolah-olah merupakan hasil musyawarah. Keputusan itu dibuat seakan-akan telah mendapatkan persetujuan.
Yang dibutuhkan Napoleon sebenarnya bukan kebenaran, melainkan pembenaran. Sebab keputusan yang dipaksakan akan mudah terlihat sebagai penindasan. Maka penindasan itu harus dibungkus dengan prosedur, diberi nama musyawarah, lalu dipertontonkan seolah-olah lahir dari kehendak bersama.
Napoleon tidak terlalu peduli apakah tuduhan itu benar atau salah. Yang penting baginya tersedia panggung untuk membuat keputusan yang telah disiapkan tampak sah di mata mereka yang tidak pernah mau memeriksa prosesnya.
***
Apakah Napoleon begitu hebat? Bisa ya, bisa tidak.
Napoleon ditakuti karena selalu dikawal sembilan ekor anjing bertampang garang, yang selalu memberikan ancaman. Mereka setia kepada Napoleon karena rutin diberi makan tulang.
Yang menarik, sembilan ekor anjing itu tidak pernah berpikir. Mereka tidak bertanya apakah perintah itu adil. Tidak pula mempersoalkan apakah tuduhan yang disampaikan memiliki bukti. Kesetiaan mereka bukan kepada kebenaran, melainkan kepada majikan yang memberi makan.
Padahal, dalam masyarakat yang sehat, mereka yang berada di sekitar pemimpin seharusnya menjadi pengingat ketika pemimpin mulai keluar dari rel, bukan justru menjadi tameng bagi setiap penyimpangan.
Lalu ada congor Squealer yang rajin memproduksi kebohongan demi kebohongan. Squealer selalu menemukan kata-kata untuk menyanjung Napoleon. Bahwa apa pun yang dilakukan Napoleon adalah untuk kebaikan dan kesejahteraan.
Dan yang paling fatal, Napoleon bisa berbuat sesukanya karena dibiarkan oleh kebodohan. Lalu kebodohan itu melahirkan kepatuhan buta. Menumpulkan nalar kritis dan akal sehat yang selalu pasrah pada kekuasaan tanpa syarat.
Lebih berbahaya lagi ketika masyarakat mulai menganggap prosedur tidak lagi penting. Dasar hukum yang keliru dianggap sekadar salah ketik. Tuduhan tanpa bukti dianggap lumrah. Musyawarah yang tidak adil dianggap cukup karena sudah diberi nama “musyawarah”. Padahal, kerusakan besar hampir selalu dimulai dari pembiaran terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dibiarkan.
Ada banyak orang pandai, namun terlalu apatis dan tidak peduli akan keadaan. Kadang orang-orang pintar malah terlalu pesimistis atau mungkin realistis. Orang-orang pintar seperti kehilangan semangat dan merasa tidak perlu bertanggung jawab. Meski kekuasaan getol membuat kekacauan.
Ada banyak pemuda yang seharusnya memiliki semangat luar biasa. Sayangnya, para pemuda begitu apatis terhadap politik. Hanya sibuk bermain bola atau melaksanakan kegiatan Agustusan, lalu merasa sudah berperan sepenuhnya sebagai pemuda. Padahal, di pundak merekalah seharusnya ketidakadilan dilawan. Dan inilah bahayanya apatisme politik kaum muda.
Ada begitu banyak ketakutan. Ada begitu banyak ketidakpedulian. Dan ada begitu banyak kemunafikan. Sehingga penguasa seperti Napoleon bebas berbuat sesuka hatinya.
Napoleon menjadi merasa “selalu benar” karena setiap kehendaknya dipatuhi oleh mereka yang ketakutan, dibiarkan oleh mereka yang memiliki ketidakpedulian, dan dijadikan fatwa oleh mereka yang menjilat Napoleon dengan penuh kemunafikan dan keserakahan.
Ini adalah persoalan moral. Tentang tanggung jawab individual sekaligus komunal.
Novel yang menjadi inspirasi saya ini sesungguhnya sedang mengkritik sikap masyarakat yang masa bodoh. Ketika ketidakadilan tidak menimpa dirinya, maka itu dianggap bukan masalah.
Padahal, sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa penindasan tidak selalu dimulai dari kekerasan. Ia sering kali dimulai dari pembiaran terhadap penyimpangan. Dari aturan yang dipelintir. Dari prosedur yang dimanipulasi. Dari forum yang kehilangan kejujuran. Dan semua itu terus berlangsung karena terlalu sedikit orang yang bersedia berkata, “Ini tidak benar.”
Kebebasan tidak cukup hanya diperjuangkan, melainkan mesti dijaga dengan kesadaran dan pengetahuan. Tanpa itu, kemerdekaan tidak akan melahirkan keadilan, tetapi hanya siklus baru dari perbudakan. Dan penindasan akan selalu menemukan pembenaran saat masyarakat tak cukup sadar atau berani untuk melakukan perlawanan.
___
Ditulis oleh: Ahmad Romdoni
Disclaimer: seluruh isi tulisan merupakan pandangan dan tanggung jawab penulis