Saat Kobokan Dianggap Lautan

REDAKSI | Doni
REDAKSI | Doni
7 Jun 2026 08:56
4 menit membaca

SUATU hari, Sudawirat mendatangi Prabu Angling Dharma. Dengan penuh keyakinan, Sudawirat menantang sang Prabu adu kanuragan. Amarah Sudawirat sudah sangat sulit dikendalikan. Keegoisannya membuat dia lupa sedang berhadapan dengan siapa.

Sudawirat hendak menuntut balas atas kematian ibunya, Nila Saroya. Cerita sepihak yang dia terima, Nila Saroya tewas di tangan Angling Dharma. Memang demikian kenyataannya. Tapi Angling Dharma punya alasan relevan hingga melakukannya. Namun sialnya, Sudawirat tak mau mendengarnya.

Dengan ajian Rengkah Gunung yang sudah dia kuasai, dia datang ke Malwapati. Menantang sang raja yang kesaktiannya begitu kesohor kemana-kemana. Sudawirat mungkin lupa, Angling Dharma bisa bertahta setelah melumat ratusan pendekar pada sebuah sayembara.

Dan tentu saja, Prabu Angling Dharma bisa mengalahkan Sudawirat dengan mudah. Ajian Rengkah Gunung yang dikeluarkan Sudawirat, tak berdampak serius pada Angling Dharma. Sekali lagi, dengan sangat mudah, Sudawirat dipermalukan Angling Dharma.

Di titik inilah Sudawirat tampak bingung: bagaimana mungkin ajian Rengkah Gunung tak berdaya di hadapan Angling Dharma? Padahal dengan ajian/ilmu itu, dia amat yakin bakal menumbangkan sang raja.

Dan seolah tahu isi hati Sudawirat, Angling Dharma berkata:

“Biasanya orang yang baru memiliki ilmu sejumput, mengira air kobokan adalah samudra raya, mengira batang pisang adalah tiang-tiang langit.”

Ya. Dengan ajian Rengkah Gunung, Sudawirat sudah merasa berilmu tinggi, menantang Angling Dharma di Malwapati. Dia merasa dirinya adalah lautan, padahal hanyalah kobokan. Batang pisang yang merasa sanggup menopang matahari, bulan, dan bintang.

***

Saya tak ingat kapan pertama kali menonton episode ini. Tapi perkataan Angling Dharma selalu saya ingat dengan presisi hingga hari ini. Apalagi, cuplikan episode itu masih dengan mudah ditemukan di media sosial.

Menurut keyakinan saya, pernyataan Angling Dharma itu adalah gambaran tentang illusion of explanatory depth—ilusi kedalaman penjelasan. Hanya karena setiap hari menggunakan sepeda motor, seseorang merasa tahu segalanya tentang motor. Kira-kira sesederhana itu.

Kadang yang menyedihkan, ada orang mencomot kutipan satu-dua kalimat, lalu merasa paham betul seluruh isi buku, mengerti benar cara berpikir penulis atau tokoh tersebut. Padahal, menyampaikan satu kutipan bukan berarti sudah membaca atau mengetahui keseluruhan.

Lalu, agar dianggap progresif, kutipan yang dipilih biasanya berasal dari penulis atau tokoh besar, macam Leo Tolstoy, Eric Arthur Blair, Tan Malaka, dan lain sebagainya. Setelah itu, merasa dirinya paling ideal dibandingkan yang lainnya.

Bagi saya, yang seperti itu adalah jenis manusia yang menyebalkan. Baru mengenal satu-dua kutipan, lalu menjadikannya “jimat” intelektual. Kutipan dipajang di bio, diselipkan di takarir, atau dijadikan story What’s App.

Orang seperti itu, dengan membusungkan dada, merasa sedang membawa obor perlawanan. Membawa misi yang dia yakini langsung dari Tuhan. Dan sedang menobatkan diri berada di jalan profetik alias kenabian.

Padahal, yang dibaca hanya serpihan, yang dipahami hanya tempelan, yang diketahui hanya sempalan. Saat tak sengaja menemukan kutipan yang cocok dengan kondisinya, kutipan itu dipajang. Untuk memunculkan kesan: orang berpendidikan.

Kutipan pun diperlakukan seperti seragam: dikenakan agar tampak kritis, bukan untuk sungguh-sungguh berpikir. Yang lebih lucu, kutipan-kutipan itu kerap dipakai untuk menepuk dada sendiri: merasa paling resah, paling progresif, paling berpihak pada kepentingan publik.

Seolah dunia terbagi sederhana: mereka yang idealis dan mereka yang pragmatis. Padahal, di belakang meja, di ruang-ruang lobi, atau pojokan kecil yang sunyi, kebanyakan dari kita sama saja—siluman dengan berbagai penampakannya.

Saya tak mengundang siapa pun untuk berpolemik. Hak setiap orang untuk mengutip pernyataan siapa pun, dari buku apa pun. Bahkan andai mau mengutip satu ayat Al-Qur’an, meski tak pernah membaca keseluruhan isi, atau paling tidak satu surat tempat ayat itu dinukil, ya, silakan saja.

Namun, hal itu bisa menjadi menyebalkan karena berpotensi kehilangan konteks. Misalnya begini: seseorang dengan bangga mengutip ayat “Laqad khalaqnal insāna fī ahsani taqwīm“. Ayat itu dikutip untuk menyombongkan diri bahwa manusia diciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya. Lalu meyakini dirinya tanpa cela dan dosa.

Padahal, andai dilanjutkan ke ayat berikutnya: “Tsumma radadnāhu asfala sāfilīn.” Dengan membaca ayat setelahnya, akan terbangun konteks bahwa kesempurnaan yang diberikan, apabila disalahgunakan, justru dapat menjatuhkan manusia ke derajat yang paling rendah—asfala sāfilīn.

Dan melalui tulisan ini, saya ingin menumpahkan rasa jengah kepada orang-orang yang sok idealis, sok kiri, sok merasa paling resah terhadap situasi yang mereka anggap tak ideal.

Padahal kenyataannya sama saja. Bukan kepentingan orang banyak yang sedang dibela. Tapi upaya menciptakan kondisi agar berpihak kepadanya.

_________________________

Ditulis oleh: Ahmad Romdoni

Disclaimer: isi tulisan merupakan pandangan pribadi penulis, bukan merupakan pandangan redaksi.