oleh

PGRI Ternyata Belum Punya Kantor Permanen, Kalah Sama Gedung Pramuka dan Graha Pemuda Ya?

TANGERANG; LENSAMETRO— Hari guru diperingati setiap tahun. Namun, ternyata markas atau kantor dari organisasi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Tangerang belum permanen. Bahkan tidak diketahui dimana kantornya.

Penelusuran wartawan lensametro.com, saat ini PGRI Kabupaten Tangerang masih menumpang di salah satu sekolah.

Berbeda dengan Gedung Pramuka dan Graha Pemuda yang diketahui keberadaannya di wilayah Kabupaten Tangerang.

Ketua PGRI Kabupaten Tangerang Bibing Sudarman saat ditanya keberadaan kantor  PGRI, pihaknya masih menunggu kado terindah dari Pemkab Tangerang untuk membantu  keberadaan gedung PGRI Kabupaten Tangerang.

“Semoga di tahun depan PGRI Kabupaten Tangerang mempunyai sekretariat agar orang-orang tidak bingung mencari sekretariat,” ujar Bibing.

“Saat ini kantor kita masih numpang di SMA PGRI. Karena kita merasa belum memiliki kantor permanen tentu saja harus diperjuangkan,” imbunya.

Direktur Eksekutif Kajian Politik Nasional (KPN) Adib Miftahul mengaku ironi saat mengetahui PGRI Kabupaten Tangerang masih belum memiliki gedung permanen.

“Bagaimana kebebasan berserikat atau berkumpul para guru bisa maksimal, jika mereka tidak mempunyai wadah atau tempat yang bersifat permanen,” ujar Adib.

Terang Adib, keberadaan kantor PGRI sangatlah penting agar bisa bisa menjabarkan program, membangun kemandirian dan perjuangan bagi para guru. “Ini kan harus dikonsep dengan mereka mempunyai markas atau kantor.ini yang perlu diperhatikan oleh Pemkab Tangerang,” ucap Adib kepada wartawan, Kamis (26/11/2020).

Baca Juga ; PGRI Sebut Upah Guru Honorer di Kabupaten Tangerang Tak Layak

Menurutnya, apabila saat ini PGRI Kabupaten Tangerang masih belum memiliki kantor permanen yang difasilitasi pemerintah, menandakan bahwa perhatian Pemkab Tangerang terhadap guru bisa dikatakan masih abai. Padahal, guru adalah ujung tombak dalam memberikan pola pendidikan para peserta didik di Kabupaten Tangerang.

“Keberpihakan itu harus ada hasil dalam hal ini tentu mendorong politik anggaran agar lebih berpihak kepada pendidikan,” tandasnya.

Lebih lanjut akademisi dari Universitas Islam Syekh Yusuf (UNIS) Tangerang ini  menambahkan, kemaslahatan pendidikan bukan hanya dirasakan oleh siswa, melainkan juga pada guru. Apabila hanya murid saja yang diberikan bantuan dan guru tidak mendapatkan hal serupa berarti masih jomplang.

“Jika bicara pendidikan semua haru merasakan bukan hanya materi melainkan juga fisiknya. Inilah namanya serius dalam membangun pendidikan,” pungkasnya. (stu/joe)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed