Menguatkan Usaha Desa Serdang Wetan dari Produksi hingga Pemasaran

REDAKSI | Doni
REDAKSI | Doni
14 Agu 2026 19:31
4 menit membaca

KEBERHASILAN usaha budidaya ikan tidak hanya ditentukan oleh hasil panen, tetapi juga oleh kemampuan mengelola proses produksi secara terencana. Hal tersebut menjadi bagian dari aktivitas yang dijalankan Ari Suhendi, Ketua Kelompok Budidaya Perikanan Dewata Farm di Desa Serdang Wetan, Kabupaten Tangerang.

Dalam menjalankan usaha, ia harus menghitung kebutuhan pakan, mengatur siklus budidaya, hingga menentukan waktu panen agar usaha kelompok dapat berkembang secara berkelanjutan.

Pada sektor yang berbeda, Linda Farida bersama anggota Kelompok Pengolahan Pangan Mekar Lestari juga menghadapi tantangan serupa. Selain menjaga kualitas produk, mereka harus mengelola biaya produksi, mengatur pesanan, serta menyusun strategi pemasaran agar usaha yang dijalankan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

Meskipun bergerak pada bidang usaha yang berbeda, kedua kelompok memiliki kebutuhan yang sama, yaitu memperkuat kapasitas usaha agar mampu berkembang secara berkelanjutan.

Kondisi tersebut masih menjadi tantangan bagi banyak kelompok usaha desa di Indonesia. Produk yang berkualitas belum selalu diikuti oleh pengelolaan produksi, manajemen usaha, dan pemasaran yang memadai. Akibatnya, berbagai program pemberdayaan sering kali berhenti pada pelatihan atau bantuan peralatan tanpa menghasilkan perubahan yang berkelanjutan dalam pengelolaan usaha masyarakat.

Berangkat dari kondisi tersebut, Program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) Universitas Multimedia Nusantara di Desa Serdang Wetan hadir untuk memperkuat kapasitas masyarakat melalui tiga aspek utama, yaitu produksi, manajemen, dan pemasaran.

Dalam program ini, transformasi digital dikembangkan sebagai instrumen pendukung ketiga aspek tersebut, bukan sebagai tujuan akhir.

Pelaksanaan pendampingan diawali dengan observasi, diskusi, dan pemetaan kondisi lapangan untuk memahami kebutuhan nyata masyarakat.

Hasil identifikasi menunjukkan bahwa penguatan aspek produksi menjadi prioritas bagi Kelompok Budidaya Perikanan Dewata Farm. Melalui workshop bersama pakar budidaya perikanan, anggota kelompok memperoleh penguatan mengenai pengelolaan kolam, efisiensi pemberian pakan, pencatatan siklus budidaya, serta strategi peningkatan produktivitas.

“Selama ini kami mengelola budidaya berdasarkan pengalaman. Pendampingan ini membuka cara pandang baru bahwa setiap proses, mulai dari pemberian pakan sampai panen, perlu dicatat agar kami bisa mengevaluasi dan mengambil keputusan dengan lebih baik,” ujar Ari Suhendi, Ketua Kelompok Budidaya Perikanan Dewata Farm.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak selalu dimulai dari penerapan teknologi. Perubahan justru dibangun melalui peningkatan kapasitas masyarakat dalam mengelola usahanya, sedangkan teknologi berperan sebagai instrumen yang memperkuat proses tersebut.

Pada saat yang sama, Kelompok Pengolahan Pangan Mekar Lestari memperoleh pendampingan dalam pengelolaan usaha melalui penyusunan biaya produksi, pencatatan keuangan sederhana, serta strategi pemasaran.

Workshop dan diskusi yang dilaksanakan menjadi ruang bagi anggota kelompok untuk meningkatkan kemampuan manajerial sekaligus menyusun solusi yang sesuai dengan kebutuhan usaha mereka.

“Kami jadi lebih memahami pentingnya mencatat setiap biaya dan mengelola pesanan dengan lebih rapi. Selama ini kami fokus memproduksi, tetapi sekarang kami juga belajar bagaimana mengembangkan usaha agar bisa terus bertahan dan berkembang,” ujar Linda Farida, Ketua Kelompok Pengolahan Pangan Mekar Lestari.

Penguatan manajemen tersebut dilaksanakan seiring dengan upaya memperluas pemasaran. Masyarakat tidak hanya didorong menghasilkan produk yang berkualitas, tetapi juga memperoleh pendampingan dalam membangun identitas produk, memanfaatkan media digital sebagai sarana promosi, serta menyusun strategi pemasaran yang lebih efektif.

Sebagai bagian dari proses pendampingan, tim Universitas Multimedia Nusantara juga mengembangkan Aplikasi Dewata Farm dan Aplikasi Mekar Lestari berdasarkan hasil observasi, diskusi, dan evaluasi bersama mitra. Pengembangan kedua aplikasi masih berlangsung dan terus disempurnakan agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat dalam mendukung pengelolaan usaha sehari-hari.

Pengalaman di Desa Serdang Wetan menunjukkan bahwa pembangunan kemandirian ekonomi desa memerlukan proses yang bertahap dan berkelanjutan. Penguatan produksi meningkatkan kemampuan teknis masyarakat, penguatan manajemen dan keuangan mendorong pengelolaan usaha yang lebih tertata. Sementara penguatan pemasaran membuka peluang pasar yang lebih luas. Teknologi kemudian berfungsi sebagai instrumen yang menghubungkan seluruh proses tersebut agar berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, keberhasilan pemberdayaan masyarakat tidak diukur dari banyaknya bantuan yang diberikan ataupun kecanggihan teknologi yang diperkenalkan, melainkan dari meningkatnya kapasitas masyarakat dalam mengelola usahanya secara mandiri.

Ketika aspek produksi, manajemen, pemasaran, dan pemanfaatan teknologi berkembang secara seimbang, desa memiliki fondasi yang semakin kuat untuk mewujudkan kemandirian ekonomi yang berkelanjutan.

Program Pemberdayaan Desa Binaan Universitas Multimedia Nusantara di Desa Serdang Wetan menjadi salah satu contoh bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat mampu menghasilkan model pemberdayaan yang berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat.

Meskipun perubahan tidak terjadi secara instan, proses pendampingan yang berkelanjutan diharapkan dapat memperkuat kapasitas masyarakat serta mendorong terwujudnya pembangunan ekonomi desa yang lebih mandiri dan berkelanjutan. (*)