Lantik 8.205 P3K Paruh Waktu: Birokrasi Pemkab Tangerang Makin Gemuk, Pelayanan Masih Kurus

REDAKSI
28 Nov 2025 15:34
3 menit membaca

“Paruh waktu itu tanggung jawab dan kinerjanya jangan separuh hati. Jaga loyalitas dan semangat untuk kepentingan masyarakat”

SEPERTI sedang ada konser besar atau tablig akbar, Lapangan Raden Aria Yudhanegara, Puspemkab Tangerang, Jumat (28/11/2025) begitu ramai. Ternyata penyebabnya, Pemkab Tangerang melantik 8.205 Pegawai Pemerintah Dengan Perjanjian Kerja (P3K) Paruh Waktu.

Dengan jumlah sebanyak itu, pelantikan dan pengambilan sumpah yang dilakukan sekali sapu, lebih mirip rekrutmen pegawai tingkat nasional, alih-alih pelantikan pegawai daerah. Jumlah itu pun, menjadikan Kabupaten Tangerang bertengger di peringkat pertama di Provinsi Banten sebagai daerah dengan P3K Paruh Waktu terbanyak.

Maesyal Rasyid, Bupati Tangerang, menyebut, prosesi jumbo itu sebagai kekuatan strategis. Kalimat yang malah terdengar retoris ketika dihadapkan pada kualitas pelayanan publik. Karena 8.205 tenaga baru yang terdiri dari 3.809 tenaga guru, 509 tenaga kesehatan dan 3.887 tenaga teknis, membuat birokrasi Pemkab Tangerang makin gemuk. Tetapi pelayanan publik tetap saja kurus, pucat, dan gampang sakit-sakitan.

“Serta merupakan kekuatan strategis yang akan memperkuat kinerja pelayanan pemerintah daerah kepada masyarakat,” kata Maesyal.

Mari kita lihat realitas di lapangan. Di puskesmas atau di rumah sakit umum daerah, warga masih harus antre panjang sejak fajar. Harus menunggu berhari-hari untuk mendapatkan slot kamar. Di kantor kecamatan, untuk mendapat tanda tangan, berkas harus piknik dari meja ke meja. Saat hendak urus administrasi kependudukan, kerap gagal dengan alasan sistem error atau blanko kosong.

Di layanan Disdukcapil, pagi-pagi buta sandal berjejer antre menggantikan manusia. Parahnya lagi, nomor antrean kadang lebih panjang daripada penjelasan yang diberikan. Serta problem lain─yang andai mau jujur melihat─masih dialami banyak masyarakat.

Ribuan pegawai yang hari ini dilantik, bisa menjadi harapan atau jawaban atas masih minornya pelayanan. Tapi juga malah bisa jadi beban, saat Pemkab Tangerang bersiasat mengadapi tekanan fiskal dan efisiensi anggaran. Ribuan tenaga baru itu harus dapat memperkuat pelayanan. Dengan semakin banyak orang, idealnya pelayanan bisa cepat dan tidak berbelit-belit.

Dengan jumlah tambahan tenaga yang besar itu, Pemkab Tangerang saat ini kembali menyandang rekor. Tinggal lepaskan rekor-rekor yang lain: rekor kemiskinan, rekor pengangguran, dan rekor buruknya pelayanan. Jangan sampai, pelantikan yang hampir membuat rumput lapangan tidak terlihat itu hanya berakhir sebagai rekor birokrasi terbesar.

Kesadaran itu mungkin yang ada di benak Maesyal. Dia meminta para P3K Paruh Waktu bekerja tak paruh hati. Meski terdengar seperti permintaan puitis,tapi itulah konsekuensi logis─saat seseorang memutuskan bergabung ke dalam barisan pemerintahan. Bila hanya karena status paruh waktu lalu bekerja paruh hati, lebih tidak sama sekali.

“Paruh waktu itu tanggung jawab dan kinerjanya jangan separuh hati. Jaga loyalitas dan semangat untuk kepentingan masyarakat,” ucapnya.

Maesyal juga mengingatkan agar para pegawai berhati-hati menggunakan media sosial. Mungkin maksud Maesyal agar anak buahnya tidak flexing atau mempertontonkan gaya hidup hedon─seperti main ke tempat hiburan malam.