Kemarau Lumpuhkan Sumur Warga, 200 KK di Mekar Baru Rela Antre Berjam-jam Demi Air Bersih

REDAKSI | Doni
REDAKSI | Doni
24 Jul 2026 16:57
2 menit membaca

KEMARAU yang berkepanjangan mulai memukul kehidupan warga Desa Kosambi Dalam, Kecamatan Mekar Baru, Kabupaten Tangerang. Sumur-sumur warga mengering, sementara kebutuhan air untuk memasak, minum, hingga mencuci harus dipenuhi dengan mengandalkan bantuan mobil tangki.

Sedikitnya 200 kepala keluarga terdampak krisis air bersih yang telah berlangsung sekitar dua bulan terakhir. Kondisi tersebut memaksa warga mengantre setiap kali bantuan air bersih tiba di lingkungan mereka.

Pemandangan itu terlihat pada Kamis (23/7/2026). Sejak pagi, puluhan warga membawa jeriken, galon, ember, hingga drum plastik untuk mendapatkan pasokan air. Di bawah terik matahari, mereka sabar menunggu giliran mengisi wadah masing-masing.

Petugas yang berada di lokasi membantu mengatur antrean sekaligus mengarahkan selang air agar proses distribusi berjalan tertib.

Ketua RT setempat, Kustara, mengatakan setiap keluarga membutuhkan sekitar 200 liter air per hari untuk memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga.

“Selama kekurangan air ini untuk minum, masak, dan mencuci sangat sulit. Kebutuhan air setiap keluarga sekitar 200 liter. Di sini ada lebih dari 200 keluarga. Sejak tidak ada air bersih, warga harus membeli air,” katanya.

Kondisi tersebut juga dirasakan Suratni. Ia mengaku sumur di rumahnya sudah tidak lagi mengeluarkan air sejak beberapa pekan terakhir sehingga aktivitas sehari-hari menjadi terganggu.

“Dari minggu kemarin, sumur di rumah sudah sama sekali enggak ngeluarin air,” ujarnya.

Sementara itu, Suhernah mengaku harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air bersih. Setiap hari ia menghabiskan sekitar Rp25 ribu hanya untuk satu gerobak air.

“Harus beli air bersih, satu gerobak Rp25.000. Sehari bisa beli satu gerobak. Sebenarnya di sebelah sana ada air, tapi jaraknya jauh. Di sini kalau kemarau panjang memang sering kekeringan, airnya enggak keluar,” tuturnya.

Menurut Suhernah, tingginya kebutuhan air sempat membuat suasana distribusi kurang kondusif karena banyak warga yang berebut mendapatkan pasokan. Namun kondisi tersebut berangsur membaik setelah pembagian diatur lebih tertib.

“Tadi sempat rebutan air bersih. Alhamdulillah sekarang ada bantuan air, warga pada senang. Harapannya bantuan air bersih ini bisa dikirim setiap hari supaya warga enggak kekurangan air,” katanya.

Warga berharap bantuan air bersih terus disalurkan selama musim kemarau masih berlangsung. Sebab hingga kini, sebagian besar sumur warga belum menunjukkan tanda-tanda kembali mengeluarkan air sehingga bantuan menjadi satu-satunya harapan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. (don)