Ratusan Kasus Suspek Campak Rubella Muncul di Tangsel, Pemkot Gencarkan Imunisasi

Redaksi | Atma
4 Nov 2025 15:56
3 menit membaca

TANGSEL (Lensametro.com) – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menyerukan kepada para orang tua untuk segera melengkapi imunisasi anak di fasilitas kesehatan terdekat. Seruan ini disampaikan menyusul meningkatnya kasus campak dan rubella di wilayah Tangsel yang kini menjadi perhatian serius Dinas Kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel, dr. Allin Hendallin Mahdaniar, mengungkapkan bahwa hingga 31 Oktober 2025, pihaknya mencatat 538 kasus suspek campak rubella, dengan rincian 66 kasus positif campak dan 9 kasus positif rubella.

“Sebagian besar kasus terjadi pada anak usia 1–4 tahun yang memiliki status imunisasi tidak lengkap atau belum mendapatkan imunisasi sama sekali,” katanya pada Selasa (4/11/2025).

Allin menjelaskan, campak merupakan penyakit sangat menular yang disebabkan oleh virus RNA dari genus Morbillivirus. Penyakit ini dapat menyerang hampir 100 persen anak yang belum memiliki kekebalan karena manusia merupakan satu-satunya reservoir alami virus tersebut.

“Penularan dapat terjadi dengan cepat di lingkungan yang tidak terlindungi oleh imunisasi,” terangnya.

Ia menuturkan, masyarakat perlu mewaspadai gejala awal campak agar dapat segera melakukan penanganan medis. Gejala yang umum muncul antara lain demam tinggi lebih dari tiga hari, batuk dan pilek disertai mata merah atau berair, serta ruam kemerahan (rash) yang biasanya dimulai dari belakang telinga dan menyebar ke seluruh tubuh.

Selain itu, ditemukan juga Koplik’s spot, yakni bercak putih keabuan dengan dasar merah di mukosa pipi bagian dalam. “Apabila gejala tersebut muncul, segera bawa pasien ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut,” tuturnya.

Lebih jauh, Allin menjelaskan bahwa sebagian besar penderita campak dapat sembuh tanpa pengobatan khusus. Tetapi, anak di bawah lima tahun, orang dewasa di atas 20 tahun, serta penderita malnutrisi, kekurangan vitamin A, atau gangguan kekebalan tubuh seperti HIV, memiliki risiko tinggi mengalami komplikasi berat.

Komplikasi tersebut antara lain diare berat, pneumonia dan bronkopneumonia, otitis media (infeksi telinga), malnutrisi dan kebutaan, ensefalitis, subacute sclerosing panencephalitis (SSPE), serta ulkus pada mukosa mulut.

“Kematian akibat campak umumnya disebabkan oleh komplikasi tersebut, terutama jika penanganan medis terlambat dilakukan. Campak dapat dicegah dengan imunisasi. Vaksin campak, termasuk vaksin MR (Measles Rubella), terbukti efektif dalam memberikan perlindungan,” paparnya.

Sebagai langkah nyata, Pemkot Tangsel telah mengambil sejumlah kebijakan untuk mencegah penularan lebih luas. Beberapa di antaranya meliputi sosialisasi dan edukasi kepada tenaga kesehatan dan masyarakat, peningkatan cakupan imunisasi, penguatan sistem surveilans serta investigasi kasus dan pelacakan kontak, penyediaan fasilitas kesehatan yang siap menangani pasien campak sesuai pedoman Kementerian Kesehatan, serta pelaksanaan Survei Cepat Komunitas (SCK) guna memastikan status imunisasi anak.

Allin juga mengajak seluruh warga Tangsel untuk menjaga Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), melapor apabila menemukan kasus serupa di lingkungan sekitar, membawa anak ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala campak, serta memastikan anak-anak telah mendapatkan imunisasi dasar lengkap.

Diagnosis pasti campak dilakukan melalui pemeriksaan darah di laboratorium rujukan nasional. Penanganan bersifat simtomatik dan suportif, serta dapat dilakukan isolasi — baik mandiri maupun di rumah sakit — guna mencegah penularan lebih lanjut.

“Pencegahan lebih baik daripada pengobatan. Imunisasi adalah langkah nyata dan efektif untuk melindungi anak-anak kita dari bahaya campak dan komplikasinya. Mari bersama-sama wujudkan Tangsel sehat, bebas campak dan rubella, melalui kepedulian dan kesadaran akan pentingnya imunisasi,” pungkasnya. [LM]