Mengapa Shizuka Memilih Nobita Meski Semua Orang Meremehkannya

REDAKSI
3 Jan 2026 05:28
6 menit membaca

SAYA rasa, hampir semua orang dewasa, apalagi generasi 90-an, mengenal serial kartun fenomenal Doraemon. Kartun yang dulu tayang saban hari Minggu jam 8 pagi itu menjadi kenangan yang tidak terlupakan hingga hari ini. Bahkan, saat generasi 90-an sudah dewasa dan bangkotan pun, masih ada yang menonton kartun asal Jepang ini.

Nah, selain Doraemon, karakter utama dalam kartun ini adalah Nobita. Kita pun mafhum bagaimana karakteristik seorang Nobita. Dia malas, bodoh, ceroboh, lemah, tak bisa banyak hal, ulangan selalu dapat nol, malas mengerjakan PR, tidak bisa bermain softball, tidak bisa berenang, tidak bisa naik sepeda, dan banyak hal lain yang jadi kelemahan Nobita. Hobi Nobita pun cukup aneh, yaitu tidur.

Nobita adalah seorang bocah yang malang oleh kehidupan. Dia hampir selalu gagal dalam hal apa pun. Di-bully Suneo, dipersekusi habis-habisan oleh Takeshi Giant. Didamprat Pak Guru karena dapat nilai nol, tidak mengerjakan PR, atau datang sekolah terlambat.

Juga dimarahi ibu, dikepung oleh Paman Kaminari karena kaca jendela rumah Paman Kaminari pecah, meski pelaku sebenarnya adalah Suneo dan Giant. Nobita juga sering digigit anjing, nyungsep di got, berdiri di depan kelas, dan—ya—yang paling sering, babak belur oleh sang rock star wanna be: Giant.

Saking menyedihkannya kisah Nobita, keturunan Nobita di masa depan sampai mengirimkan robot kucing yang kerap dikira rakun, yaitu Doraemon. Tentu, Doraemon dikirim untuk membantu Nobita yang begitu akrab dengan berbagai macam masalah. Namun meski sudah ada Doraemon pun, hidup Nobita tetap membuat kita mengelus dada sambil menghela napas panjang.

Tapi dengan segala problematikanya, Nobita adalah pecinta sejati (true lovers). Rasa cintanya pada Shizuka benar-benar sulit digambarkan dengan kata-kata. Level cinta Nobita kepada Shizuka adalah level bucin: budak cinta. Bagi Nobita, Shizuka adalah segalanya. Dia akan mengabaikan apa pun demi Shizuka.

Dalam satu episode, Nobita dengan berat hati memutuskan menjauhi Shizuka. Niat itu dia utarakan kepada Doraemon. Si robot kucing pun bertanya:

“Kenapa? Apa kamu membenci Shizuka?”

“Tidak mungkin. Aku bisa bertahan sampai hari ini karena Shizuka.”

Jawaban Nobita seperti dari dimensi lain. Dia seperti bukan anak kelas 4 SD. Dan ternyata alasan Nobita hendak menjauhi Shizuka adalah karena saat berada di sekolah, dia dimarahi Pak Guru.

Pak Guru menceramahi Nobita karena nilai jelek, sering terlambat, dan tidak mengerjakan PR. Kata Pak Guru, jika Nobita tetap seperti itu, maka masa depannya akan suram dan dipenuhi kesulitan.

Nah, karena itulah Nobita berniat menjauhi Shizuka. Dia tidak mau, jika kelak dia dan Shizuka menikah, Shizuka akan ikut susah. Hadeh.

Di hari yang lain, Giant menunjukkan gambar karyanya yang hancur parah. Tapi bacot lancip Suneo yang terus memuji karya Giant itu membuat Giant berniat menjadi pelukis. Giant lalu meminta Shizuka jadi model lukisannya. Shizuka yang menolak hampir dipukuli Giant. Di situlah Nobita mengorbankan diri membela Shizuka, meski akhirnya Nobita habis jadi bulan-bulanan si Giant.

Atau kisah saat hari ulang tahun Shizuka—yang saya tidak tahu yang keberapa. Ceritanya, di hari ulang tahun itu, Shizuka mendapat kesialan berkali-kali. Gagal membuat kue, terperosok ke got, hingga nyaris ditabrak sepeda. Karena hal itu, Nobita menjadi sedih, langkahnya gontai.

Bersama Doraemon, Nobita lalu menggunakan mesin waktu untuk mencegah hal-hal buruk yang dialami Shizuka. Meski usaha itu juga gagal karena Shizuka tetap kena sial, terutama saat Shizuka dipaksa mendengarkan Giant bernyanyi lagu ciptaan Giant sendiri berjudul “Boy, Boy, Boy, Boy, Boy.”

Ada lagi. Di sekolah, Shizuka bercerita ditinggal pergi kedua orang tuanya ke luar kota. Tentu saja, Shizuka sendirian di rumah. Konyolnya, Nobita menawarkan diri untuk menemani Shizuka—tentu saja ditolak. Malamnya, Nobita tidak bisa tidur. Dia gelisah memikirkan keselamatan—ya, keselamatan Shizuka.

Nobita amat khawatir ada hal buruk yang akan menimpa Shizuka. Dia pun merengek kepada (siapa lagi kalau bukan) Doraemon. Nobita memaksa Doraemon mengeluarkan alat agar Nobita bisa memantau Shizuka. Doraemon pun mengeluarkan alat itu.

Akhirnya Nobita sukses memantau Shizuka secara langsung tanpa ketahuan. Tapi, seperti biasanya, usaha melindungi Shizuka justru malah mencelakai Shizuka.

Dan inilah kisah yang menurut saya paling absurd dari kebucinan Nobita kepada Shizuka. Ceritanya, karena kecerobohan Nobita menggunakan alat milik Doraemon, dunia menjadi kacau. Tata Surya bergejolak. Benda-benda langit satu per satu berjatuhan. Dunia akan hancur, akan kiamat.

Doraemon pun mengeluarkan alat khusus, semacam kapsul roket, untuk berlindung sekaligus pergi ke planet lain yang aman. Ayah dan Ibu Nobita, termasuk Doraemon, Suneo, dan Giant, sudah naik. Nobita yang berlari sekuat tenaga ke kapsul itu tiba-tiba menghentikan langkahnya sesaat sebelum masuk.

Nobita memilih berbalik arah, enggan memasuki kapsul, padahal keadaan sudah sangat kacau. Semua berteriak memanggil Nobita, menyeru dia agar segera masuk. Tapi Nobita diam. Dia enggan masuk karena di dalam kapsul penyelamat itu tidak ada Shizuka.

Dalam keadaan yang sudah sangat kacau—bumi hancur, gunung meletus, air laut tumpah—Nobita memilih mencari Shizuka untuk menyelamatkannya. Semua orang mengingatkan Nobita bahwa apa yang dia lakukan percuma.

“Tidak percuma. Kalau harus mati, aku akan bersama Shizuka.”

Anjir sia Nobita.

Kapsul tak bisa menunggu. Roket itu pun lepas landas. Sementara Nobita terus melangkah di antara kekacauan yang tiada tara. Tapi akhirnya dia gagal menyelamatkan Shizuka. Di situlah tangis Nobita menjadi-jadi. Dia berulang kali menyalahkan dirinya karena gagal menyelamatkan belahan jiwanya.

Untungnya, peristiwa itu hanyalah rekayasa untuk memberi pelajaran bagi Nobita agar tidak sembarangan menggunakan alat Doraemon.

Tapi apa respons Nobita? Dia bahagia karena Shizuka baik-baik saja. Nobita tak peduli dunia porak-poranda. Yang dia pedulikan hanya Shizuka.

Masih ada kisah lain yang menggambarkan kebucinan Nobita kepada Shizuka. Misalnya saat Shizuka hendak pergi ke Italia untuk sekolah musik. Nobita mati-matian menggagalkan rencana itu. Dan banyak kisah lainnya, tentu.

Masih ada satu momen kecil tapi nge-touch di hati: saat Nobita melihat Shizuka menangis, dia langsung panik meski tidak tahu sebabnya. Bukannya menenangkan dengan kata-kata bijak—karena memang dia tidak bijak—Nobita justru ikut nangis. Dua bocah nangis barengan. Masalah belum tentu selesai, tapi empatinya jalan duluan.

Akhirnya kita tahu, Shizuka memilih Nobita, tentu bukan karena Nobita hebat atau pintar. Melainkan karena Shizuka tahu, hanya Nobita yang benar-benar tulus cintanya.

Nobita yang kampret memang payah di banyak hal, sering gagal, dan kerap diremehkan, tapi cintanya tidak pernah setengah-setengah. Nobita rela disakiti, ditertawakan, dilecehkan, bahkan rela kehilangan nyawa asalkan Shizuka baik-baik saja. Jelas Nobita sosok suami idaman—meski kalau tidak punya duit mah tetap saja dicarekanan.

Cinta Nobita kepada Shizuka seperti cinta Majnun kepada Layla. Majnun berkata, “Debu yang menempel di sandal Layla, lebih aku sukai daripada dunia dan seisinya.”

Dari dulu beginilah cinta, deritanya tiada akhir (eh, Cu Pat Kau itu mah). Maksudnya, dari dulu sampai saat ini, cinta memang tak pernah sepenuhnya bisa dilogika. Dan mungkin, di situlah pelajarannya.

Kita hidup di dunia yang hipokrit. Gemar mengukur apa pun dengan angka atau prestasi. Mengabaikan hal-hal yang esensi dan manusiawi.

Kita hidup di tengah Suneo-Suneo bermulut lancip, provokator, licik, dan sombongnya nauzubillah. Serta dikelilingi Giant-Giant yang menggunakan kekuatannya untuk menindas dan merampas. Atau Doraemon yang hampir bisa dan punya segalanya, tapi tak mampu menyelesaikan apa-apa.

Dan dari segala kekacauan itu, Nobita menunjukkan ketulusan yang sederhana namun bermakna—karena bagi Nobita, tak ada yang lebih berharga daripada Shizuka. Itulah cinta kita!


Disclaimer:

Ditulis oleh Ahmad Romdoni

Isi tulisan tidak mencerminkan sikap Redaksi dan di luar tanggung jawab Redaksi