HKTI Puji Langkah Cepat Prabowo: Utang Petani Dihapus, HPP Gabah Naik, dan Penyerapan BULOG Tembus Rekor

Redaksi | Atma
30 Apr 2025 14:28
2 menit membaca

JAKARTA (Lensametro.com) – Langkah berani diambil Presiden Prabowo Subianto dengan menghapus utang petani yang telah membelenggu selama 25 tahun. Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2024 dan dinilai sebagai gebrakan besar dalam dunia pertanian nasional.

Ketua Umum DPN Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Fadli Zon, memuji kebijakan tersebut sebagai solusi cepat yang langsung menyentuh akar masalah klasik pertanian.
“Dalam tempo kurang dari 30 hari, Presiden menyelesaikan masalah utang yang sudah menghambat produktivitas petani. Akses permodalan kini terbuka kembali. Padahal masalah utang ini sudah membelenggu petani selama 25 tahun,” katanya dalam keterangan tertulis, Rabu (30/4/2025).

Memasuki usia ke-52, HKTI menilai serangkaian langkah pemerintahan Prabowo menunjukkan keberpihakan nyata terhadap nasib petani. Salah satu kebijakan strategis lainnya adalah menaikkan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah menjadi Rp6.500 per kilogram sejak awal 2025, yang langsung berdampak positif terhadap pendapatan petani. Kenaikan ini ikut mendorong nilai tukar petani (NTP) hingga mencapai 123,72 pada Maret lalu.

“Peningkatan kesejahteraan petani salah satunya disebabkan oleh HPP gabah yang sebelumnya rendah dan lama tak disesuaikan. Pemerintah kini mengevaluasi HPP secara berkala. Ini terbukti meningkatkan pendapatan petani,” ujar Fadli.

Tidak hanya itu, Fadli juga menyoroti capaian penyerapan gabah oleh BULOG yang melonjak signifikan. Hingga 30 Maret 2025, BULOG telah menyerap 725.000 ton setara beras—angka tertinggi dalam satu dekade.
“HKTI mendukung BULOG terus meningkatkan penyerapan gabah petani,” katanya.

Distribusi pupuk bersubsidi yang kini lebih tepat sasaran turut diapresiasi HKTI, mengingat kelangkaan pupuk selama ini sering menghambat musim tanam.
“Petani juga semakin mudah mendapatkan pupuk bersubsidi yang ketersediaannya tepat jumlah, tepat harga dan tepat waktu,” kata Fadli. Ia menegaskan, HKTI siap mengawasi distribusi pupuk untuk mencegah penyimpangan.

Fadli menambahkan, kunci keberhasilan reformasi pertanian terletak pada keberimbangan antara insentif input seperti pupuk dan modal, serta insentif output berupa harga dan penyerapan.

Lebih jauh, HKTI juga menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan semakin mengangkat kesejahteraan petani dengan menyerap hasil produksi lokal.
“MBG selain mencetak generasi emas, juga membuka pasar bagi produk pertanian seperti sayur, telur, dan daging. HKTI siap jadi garda terdepan mendukung program ini,” tutup Fadli [LM].