
JELANG datangnya bulan suci Ramadan, Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Lemdiklat Polri Angkatan 83 WPS terus menunjukkan semangat kepedulian. Kali ini, Senin (16/2/2026), para mahasiswa menyerahkan enam ekor sapi—atau yang di Aceh biasa disebut lembu—serta tiga ekor kambing.
“Bantuan ini merupakan komiten untuk berbagi, peduli, dan mendukung tradisi Meugang di wilayah yang merupakan tradisi masyarakat Aceh,” kata Perwira Pendamping, Kombes Pol Firdaus Wulanto.
Firdaus menjelaskan, bantuan hewan Meugang diperuntukkan bagi masyarakat yang terdampak bencana hidrometeorologi. Sebagai bentuk solidaritas dan penguatan semangat kebersamaan menjelang Ramadan.
“Masing-masing sapi memiliki bobot rata-rata hampir setengah ton, mencerminkan kesungguhan dukungan yang diberikan,” ucap Firdaus.
Tradisi Meugang merupakan kearifan lokal masyarakat Aceh, yakni menyembelih, memasak, dan menyantap daging bersama keluarga serta kerabat sebagai simbol syukur dan persiapan menyambut bulan puasa.
Di tengah kondisi pemulihan pascabencana, kehadiran hewan Meugang ini menjadi lebih dari sekadar bantuan pangan. Melainkan menjadi simbol harapan dan kebersamaan.
“Kegiatan ini bukan hanya bagian dari pengabdian sosial, tetapi juga pembelajaran kepemimpinan berbasis empati bagi para perwira Polri masa depan,” kata Firdaus.
Melalui kegiatan itu, dia berharap kehadiran mahasiswa STIK benar-benar dirasakan masyarakat. Firdaus menambahkan, tradisi Meugang memiliki makna mendalam bagi warga Aceh.
“Kami berharap bantuan ini dapat menguatkan semangat dan kebersamaan mereka menyambut Ramadan,” ujarnya.
Perwakilan mahasiswa, Iptu Abdul Hari menyampaikan, penyerahan hewan Meugang adalah bentuk penghormatan terhadap budaya lokal sekaligus wujud solidaritas kemanusiaan. Kata dia, bagi masyarakat Aceh, Meugang bukan hanya tradisi, tetapi momentum kebersamaan.
“Kami merasa terhormat bisa menjadi bagian dari kebahagiaan itu, khususnya bagi saudara-saudara kita yang sedang bangkit dari bencana,” ungkapnya.
Sementara itu, Iptu Regi Agustoni menambahkan, kegiatan itu menjadi pengalaman berharga bagi para mahasiswa dalam memahami makna pengabdian yang sesungguhnya. Melalui kegiatan itu, Regi melanjutkan, mahasiswa belajar bahwa menjadi anggota Polri berarti hadir dalam setiap denyut kehidupan masyarakat.
“Termasuk menjaga tradisi dan nilai-nilai sosial yang menguatkan persatuan,” tuturnya.