Bedah Buku Pendidikan Kaum Tertindas: Saat Pedagogi Kritis Bisa Lahirkan Semangat Antikorupsi

REDAKSI | Doni
REDAKSI | Doni
18 Okt 2026 06:31
2 menit membaca

PEMBERANTASAN korupsi, termasuk di level pedesaan tidak akan tuntas jika hanya mengandalkan pendekatan hukum dan penindakan. Senjata paling ampuh untuk meruntuhkan praktik lancung itu adalah melalui pedagogi kritis.

Pandangan tersebut mengemuka dalam forum bedah buku mahakarya Paolo Freire, Pendidikan Kaum Tertindas, bertema “Pendidikan: Alat Pembebasan atau Mesin Penindasan?” yang digelar di Lapangan IPPC, Kampung Cengkok, Balaraja, Sabtu (17/10/2026) malam.

Direktur Visi Integritas, Ade Irawan yang jadi salah satu pembicara mengatakan, pedagogi kritis adalah sebuah metode pendidikan yang membebaskan nalar masyarakat dari pembodohan struktural.

“Gerakan antikorupsi bisa lahir dari kesadaran kritis yang tumbuh dari dalam diri melalui pendidikan yang membebaskan,” kata Ade.

Tidak hanya itu, Ade juga menyebut, pendidikan kritis dapat mendorong masyarakat lepas dari apatisme politik. Dengan demikian, masyarakat dapat dengan kritis menilai postur anggaran pendapatan dan belanja desa (APBDes), apakah mewakili kebutuhan masyarakat atau tidak.

“Sebab korupsi sudah bukan lagi di pelaksanaan, sejak perencanaan atau penganggaran pun, korupsi sudah dipetakan,” ujar Ade yang juga aktivis Indonesia Corruption Watch (ICW) ini.

Sementara anggota Dewan Pendidikan Kabupaten Tangerang, Qomaruzzaman menyoroti kebijakan pendidikan saat ini. Menurutnya, program beasiswa layak diapresiasi. Namun hendaknya langkah itu dibarengi dengan peningkatan infrastruktur pendidikan dan peningkatan kualitas serta kesejahteraan guru.

“Beasiswa bagus, tapi jangan asal gratis, asal yang penting sekolah, mutu pendidikan, termasuk daya dukung infrastruktur juga harus diperhatikan,” ujarnya.

Qomaruzzaman, yang juga kepala Sekolah Islam Terpadu tidak menampik adanya tantangan besar ketika lembaga pendidikan justru terjebak menjinakkan daya kritis demi kepatuhan semu. Oleh karena itu, dia mendorong adanya terobosan kurikulum dan pengajaran agar lebih dialogis.

Pembicara lainnya, Dedeh Kartika, yang merupakan praktisi pendidikan, menyinggung teori “pendidikan gaya bank” yang dikritik Freire. Dia menjelaskan, “pendidikan gaya bank” menempatkan peserta didik hanya sebagai wadah kosong yang patuh.

“Ini adalah akar masalah mengapa pendidikan di Indonesia belum dapat menjadi alat pembebasan,” ujarnya.

Melalui bedah buku tersebut, pedagogi kritis Freire tidak lagi sekadar menjadi teori usang di atas kertas, melainkan sebuah manifesto mendesak: bahwa mendidik secara kritis adalah langkah awal yang fundamental untuk melahirkan generasi yang merdeka, berintegritas, dan berani melawan korupsi.