Bethsaida Hospital Luncurkan SALC, Fasilitas Rehabilitasi Stroke Terpadu Pertama di Indonesia

Redaksi | Atma
12 Jun 2025 17:32
3 menit membaca

KAB. TANGERANG (Lensametro.com) – Bethsaida Healthcare resmi memperkenalkan Stroke Assisted Living Center (SALC) di Moriah Pavillion, Bethsaida Hospital Gading Serpong. Fasilitas ini menjadi pusat pemulihan pasca-stroke pertama di Indonesia yang terintegrasi langsung dengan layanan rumah sakit.

SALC menghadirkan pendekatan holistik dalam rehabilitasi, menyatukan layanan medis, terapi fisik, dukungan psikologis, serta aspek sosial dalam satu tempat yang aman dan nyaman. Mengusung filosofi Live The Life Together, SALC dirancang untuk membantu para penyintas stroke memulihkan kembali kemandirian dan kualitas hidup mereka, baik secara fisik, mental, maupun emosional.

CEO Bethsaida Healthcare, Prof. dr. Hananiel P. Wijaya, MM, M.Sc, CIA, menjelaskan bahwa kehadiran SALC merupakan wujud komitmen Bethsaida dalam menghadirkan solusi perawatan jangka panjang bagi pasien stroke.

“Pemulihan pasca-stroke tidak berhenti di hospital. Banyak pasien kehilangan kemandirian karena kurangnya dukungan yang berkelanjutan. Dengan SALC, kami memberikan rumah kedua yang bukan hanya aman, tetapi juga mendorong pasien untuk bangkit, belajar kembali, dan hidup dengan kualitas yang layak,” ucapnya.

SALC menyediakan beragam layanan rehabilitasi intensif, seperti fisioterapi, terapi okupasi, terapi wicara, dukungan psikologis, hingga pelatihan kemandirian. Seluruh program disusun secara individual, menyesuaikan kondisi dan kebutuhan setiap pasien.

Keunggulan utama SALC terletak pada keterhubungan langsung dengan fasilitas medis Bethsaida Hospital, sehingga pasien dan keluarga mendapatkan rasa aman dan dukungan menyeluruh dalam proses pemulihan.

Direktur Sales & Marketing Bethsaida Hospital Gading Serpong, Iwan A. Setiawan, menekankan bahwa SALC tidak hanya sekadar tempat perawatan, tetapi juga tempat untuk kembali menjalani hidup yang bermakna.

“SALC hadir untuk memberikan pengalaman pemulihan yang lebih menyeluruh. Kami merancang paket program dengan fleksibilitas tinggi, mulai dari layanan residensial, day care, hingga program dengan pendamping agar pasien dan keluarga dapat memilih sesuai kebutuhan dan kenyamanan,” jelasnya.

Sementara itu, dr. Raymond Posuma, Sp.KFR, MS (K), FIPM (USG), Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik di Bethsaida Hospital, menjelaskan bahwa proses rehabilitasi adalah tahapan krusial bagi para penyintas stroke untuk kembali hidup mandiri.

“Stroke memang dapat mempengaruhi berbagai fungsi motorik dan kognitif. Namun dengan terapi yang tepat, pasien memiliki peluang besar untuk kembali menjalani aktivitas sehari-hari, seperti berjalan, berbicara, bahkan makan secara mandiri,” ujarnya.

Ia menambahkan, rehabilitasi yang terstruktur dan dilakukan secara berkelanjutan mampu mengurangi risiko disabilitas serta meningkatkan kualitas hidup pasien.

“Rehabilitasi tidak hanya berfokus pada pemulihan gerak, tapi juga melatih ulang fungsi otak serta membangun kembali kemandirian dan kepercayaan diri pasien,” paparnya.

Menurutnya, proses ini bukan sekadar latihan fisik, tetapi juga mengaktifkan kembali sistem saraf yang sempat terganggu. Karena itu, pendekatan komprehensif—mulai dari fisioterapi, stimulasi kognitif, hingga dukungan psikologis—harus dijalankan secara bersamaan.

“Di SALC, kami menyediakan semua layanan tersebut dalam satu sistem yang terpadu, sehingga pasien dapat memperoleh dukungan optimal untuk pemulihan mereka,” tambahnya.

Lebih lanjut, dr. Raymond juga menyampaikan bahwa pendekatan sosial atau social prescription intervention kini menjadi elemen penting dalam rehabilitasi stroke. Melalui pendekatan ini, pasien terhubung dengan komunitas, aktivitas sosial, atau kelompok pendukung di lingkungan mereka.

Data menunjukkan bahwa delapan dari sepuluh penyintas stroke berisiko kehilangan kemandirian apabila tidak menjalani rehabilitasi secara terstruktur. SALC hadir menjawab tantangan tersebut, tidak hanya dari sisi medis, tetapi juga dengan pendekatan yang membangkitkan semangat hidup pasien. [LM]