
KEKUASAAN selalu menyimpan godaan: kekayaan, kemewahan, dan penyalahgunaan wewenang. Sejarah Islam pun tidak luput dari ujian itu. Di tengah situasi tersebut, muncul seorang sahabat Nabi yang menolak bungkam. Namanya Abu Dzar Al-Ghifari.
Sebagai umat Islam, kita tentu mesti meneladani sikap dan laku Nabi Muhammad SAW, juga para sahabat beliau. Ada empat sahabat Nabi yang begitu lekat dalam benak kaum Muslim, yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Keempatnya dikenal sebagai Khulafaur Rasyidin.
Namun, sahabat Nabi tentu tidak hanya empat orang itu. Ada banyak sahabat lain yang memiliki perangai terpuji dan layak diteladani. Salah satunya adalah Abu Dzar Al-Ghifari. Sayangnya, nama Abu Dzar tidak sepopuler empat khalifah tersebut. Padahal watak dan perjuangannya justru terasa sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini.
Sastrawan Mesir Abdul Hamid Judah as-Sahhar, dalam buku Abu Dzar al-Ghifari: Sahabat Dekat Nabi yang Zuhud dan Pembela Kaum Miskin, menjelaskan bahwa Abu Dzar berasal dari suku Ghifar, suku yang pada masa pra-Islam dikenal sebagai kawanan penyamun. Ketika Islam datang, Abu Dzar menjadi salah seorang yang paling awal memeluk agama ini, lalu tumbuh menjadi sahabat dekat Rasulullah.
Abu Dzar dikenal sebagai pribadi yang taat sekaligus zuhud. Ia memegang teguh prinsip hidup sederhana hingga akhir hayat. Kezuhudan itulah yang membuatnya tidak silau oleh kekayaan dan tidak gentar menghadapi kekuasaan.
Abdul Hamid Judah bahkan menyebut Abu Dzar sebagai tokoh sosialis awal karena keberaniannya mengkritik para penguasa yang hidup bermewah-mewahan di tengah rakyat yang masih hidup dalam kesulitan.
Sepeninggal Nabi, Islam berkembang sangat pesat. Banyak negeri berhasil ditaklukkan sehingga ghanimah, fa’i, dan berbagai sumber pemasukan negara terus mengalir. Namun, limpahan kekayaan itu juga melahirkan persoalan. Sebagian gubernur, amir, maupun pejabat mulai mempertontonkan gaya hidup yang glamor, jauh dari teladan kesederhanaan yang diwariskan Rasulullah.
Di sinilah Abu Dzar mengambil sikap. Ia tidak memilih diam, apalagi cari aman, entah karena melindungi kepentingan atau punya nafsu menunggu giliran menduduki kekuasaan. Ia tidak berpura-pura tidak melihat, tidak berlaga tidak mendengar. Ia juga tidak menganggap kemewahan para pejabat sebagai kelaziman.
Abu Dzar terus mengingatkan para penguasa agar kembali kepada ajaran Nabi: hidup sederhana, menjadikan kekuasaan sebagai amanah, dan menempatkan rakyat sebagai tujuan, bukan korban dari kekuasaan.
Keberpihakan Abu Dzar kepada rakyat kecil begitu jelas. Ia berdiri bersama kaum miskin, kaum lemah, dan mereka yang tertindas (mustadh’afin). Karena itu, banyak kalangan melihat Abu Dzar sebagai simbol keadilan sosial dalam tradisi Islam.
Sosok Abu Dzar juga sangat dikagumi Ali Syari’ati. Pemikir besar Iran itu memandang Abu Dzar sebagai figur yang mampu berdiri tegak menghadapi kekayaan, kekuasaan, bahkan otoritas keagamaan demi menjaga Islam yang otentik: Islam yang berpihak kepada kaum miskin, kaum tertindas, dan mereka yang memiliki kesadaran sosial.
Mukhlis, dalam jurnal Islam dan Pemberontakan terhadap Status Quo: Telaah atas Pemikiran Teologi Sosial Ali Syari’ati (2009), menjelaskan, Syari’ati menemukan Islam sebagai medium untuk membangun masyarakat yang ideal. Dan bagi Syari’ati, model manusia yang mampu mewujudkan cita-cita itu adalah Abu Dzar Al-Ghifari.
Selain dikenal zuhud, Abu Dzar—yang memiliki nama asli Jundub bin Junadah—juga dikenal sangat kritis. Salah satu bentuk kritisisme itu tampak dari keberpihakannya kepada kaum miskin. Sikap tersebut ia pertahankan sekalipun yang dikritiknya adalah para pejabat dan penguasa.
Dikisahkan, pada masa Khalifah Utsman bin Affan, ketika kesenjangan sosial mulai tampak, Abu Dzar mendesak agar khalifah mengambil langkah nyata. Ia juga mengkritik praktik pengangkatan maupun pemberhentian pejabat yang dinilainya tidak mencerminkan semangat keadilan.
Bukan hanya kepada penguasa dan orang-orang kaya, Abu Dzar juga mengkritik gaya hidup masyarakat Muslim yang menurutnya mulai menjauh dari ajaran Rasulullah. Setelah kemenangan demi kemenangan dalam berbagai peperangan, sebagian masyarakat mulai larut dalam kemewahan dan perlahan meninggalkan kesederhanaan yang selama ini menjadi ciri kehidupan Nabi.
Karena itulah, Abu Dzar dikenang sebagai figur yang sederhana sekaligus lantang melawan ketimpangan sosial. Adapun penggunaan istilah “sosialis” terhadap dirinya memang masih diperdebatkan oleh banyak ulama dan cendekiawan. Sebab, konsep sosialisme yang dilekatkan kepada Abu Dzar tentu tidak identik dengan sosialisme modern yang lahir berabad-abad kemudian.
Namun, apa pun istilah yang digunakan, sikap Abu Dzar tetap merupakan sikap yang mulia dan progresif. Sikap itu lahir dari kecintaannya kepada Rasulullah. Perlu diingat pula, Abu Dzar termasuk salah seorang Ahlus Shuffah, yakni para sahabat yang mendapat bimbingan langsung dari Nabi.
Bahkan, Rasulullah pernah menyampaikan tujuh wasiat kepada Abu Dzar, yaitu: (1) mencintai orang-orang miskin dan selalu dekat dengan mereka; (2) melihat kepada orang yang berada di bawah dalam urusan dunia, bukan kepada yang berada di atas; (3) menyambung tali silaturahim meskipun kerabat berlaku kasar; (4) memperbanyak membaca La haula wa la quwwata illa billah; (5) mengatakan kebenaran meskipun pahit; (6) tidak takut terhadap celaan orang-orang yang mencela ketika berdakwah di jalan Allah; dan (7) tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia.
Jika dicermati, tujuh wasiat Rasulullah itu bukan sekadar nasihat tentang kesalehan pribadi. Di dalamnya terkandung etika sosial yang begitu kental. Rasulullah tidak mendidik Abu Dzar menjadi pribadi yang sibuk mengurusi ibadah ritual semata, tetapi juga membentuknya menjadi manusia yang memiliki keberanian moral untuk berpihak kepada mereka yang lemah dan tak berdaya.
Perintah mengatakan kebenaran meskipun pahit, misalnya, bukanlah ajaran untuk mencari permusuhan. Wasiat itu adalah ajaran agar seorang Muslim tidak kehilangan keberanian ketika melihat kemungkaran, ketidakadilan, atau penyimpangan kekuasaan.
Sebab, ketika orang-orang baik memilih diam, maka orang-orang brengsek yang diuntungkan. Dan menurut saya, tidak ada orang baik yang hanya diam saat melihat kerusakan, yang diam hanyalah orang-orang yang pura-pura baik untuk mendulang keuntungan, berupa uang atau kekuasaan.
Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk cuek terhadap penderitaan orang lain. Islam malah mengkritik umatnya yang diam saja hanya karena ketidakadilan bukan menimpa dirinya. Jangan sampai kita baru merasa terganggu ketika ketidakadilan menimpa diri sendiri atau keluarga.
Ketika rakyat miskin kehilangan haknya, ketika korupsi merampas uang publik, ketika kekuasaan dijalankan secara sewenang-wenang, ketika persekongkolan busuk para pemangku kepentingan begitu terang-terangan, atau ketika kelompok lemah terus dipinggirkan, sesungguhnya yang sedang terluka bukan hanya satu orang, melainkan mengencingi rasa keadilan banyak orang.
Karena itu, mengkritik kekuasaan yang menyimpang bukanlah tindakan haram, malah dianjurkan. Bukan juga untuk membenci apalagi memusuhi pemegang kekuasaan, justru mengingatkan.
Dan di balik kritik ada bentuk cinta terhadap keadilan dan tanggung jawab untuk menjaga amanah kekuasaan. Sebab, kekuasaan yang tidak pernah dikritik akan lebih mudah tergelincir pada kesewenang-wenangan. Kekuasaan yang diliputi sunyi cenderung tirani. Dan ketika penyimpangan dibiarkan, yang paling dahulu menjadi korban adalah rakyat kecil yang tak punya kekuatan.
Pada hakikatnya, Islam sendiri datang sebagai kritik terhadap perilaku buruk manusia. Islam mengkritik kesombongan, penindasan, penumpukan kekayaan yang mengabaikan kaum miskin, korupsi, ketidakjujuran, penyalahgunaan kekuasaan, hingga segala bentuk kezaliman. Karena itu, menjadi Muslim bukan hanya soal rajin beribadah, tetapi juga memiliki keberanian moral untuk mencegah kemungkaran sosial.
Melalui sosok Abu Dzar Al-Ghifari, kita belajar bahwa keberagamaan bukan sekadar urusan masjid dan sajadah. Keberagamaan juga berarti menghadirkan keadilan di tengah masyarakat. Membela mereka yang tertindas, mengingatkan penguasa ketika menyimpang, mengkritik kebijakan yang merugikan, serta tidak membiarkan kemiskinan dan ketimpangan dianggap sebagai kewajaran.
Barangkali, persoalan terbesar umat hari ini bukan lagi tidak tahu mana yang benar. Kita tahu. Persoalannya, kita terlalu sering memilih diam ketika kebenaran itu harus diucapkan.
Abu Dzar mengajarkan bahwa diam di hadapan penyimpangan bukanlah pilihan. Sebab, ketika kekuasaan menyimpang, membela yang lemah dan mengatakan kebenaran bukan sekadar hak, melainkan bagian dari amanah keimanan.
Maka, warisan terbesar Abu Dzar bukanlah semata-mata kezuhudan, melainkan keberanian. Keberanian untuk mengatakan yang benar meski pahit, membela yang lemah meski harus berhadapan dengan kekuasaan, dan menolak bungkam ketika kekuasaan menyimpang.
Itulah Abu Dzar Al-Ghifari. Dan mungkin, itulah sosok sahabat Nabi yang paling dibutuhkan untuk dibaca dan diteladani oleh pemuda Islam hari ini.
______
Ditulis oleh: Ahmad Romdoni
Disclaimer: segala materi tulisan adalah pandangan pribadi penulis dan menjadi tanggung jawab penulis.