Musnahkan Barang Bukti, Kajari Sebut Ada Peningkatan Kasus Obat Keras di Tangerang

KABUPATEN TANGERANG; Lensametro.com – Perkarara penyalahgunaan obat keras tanpa izin edar dan peredaran uang palsu yang ditangani Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Tangerang meningkat.

 

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Kejari Kabupaten Tangerang, Ricky Tommy, pada kegiatan pemusnahan barang bukti perkara tindak pidana umum yang telah mempunyai hukum tetap (inkrah).

 

Pemusnahan barang bukti tersebut dilaksanakan di halaman Kantor Kejaksaan Negeri Kabupaten Tangerang, Rabu 22 Mei 2024.

 

Dari pantauan, barang bukti yang dimusnahkan berasal dari 276 perkara hingga bulan Mei 2024, mulai dari narkotika jenis sabu, ganja, extacy, senjata tajam, uang palsu, alat komunikasi atau handphone, hingga obat-obatan terlarang seperti tramadol dan hexymer.

 

Narkotika sabu seberat lebih dari 38 gram, 95 butir pil extacy, dan 9.000 butir obat keras tanpa izin edar dimusnahkan dengan cara diblender setelah dilarutkan dengan air.

 

Sementara, untuk narkotika jenis ganja seberat lebih dari 681 gram beserta 240 lembar uang palsu pecahan Rp100 ribu dimusnahkan dengan cara dibakar.

 

“Kita lihat secara statistik ada peningkatan pada perkara undang-undang kesehatan (obat keras) dan uang palsu, ada tren peningkatan pada tindak pidana ini,” kata Kepala Kejari Kabupaten Tangerang, Ricky Tommy kepada awak media di lokasi.

 

Ia menyebut ada ribuan obat-obatan terlarang yang dimusnahkan. Namun demikian masih ada puluhan ribu butir obat tramadol dan hexymer yang menjadi barang bukti dalam perkara yang masih berjalan di Kejari Kabupaten Tangerang.

 

“Jadi memang ada tren kenaikan di perkara ini obat-obatan ini. Harus kita cegah bersama karena ini menyebabkan addict (kecanduan) juga,” ujarnya.

 

Menurut Ricky, meningkatnya tren perkara obat-obatan terlarang itu sejalan dengan banyak ditemukannya kasus penyalahgunaan obat keras tanpa izin di wilayah Kabupaten Tangerang.

 

Bahkan peredarannya tersebar di hampir seluruh wilayah Kabupaten Tangerang baik yang diedarkan secara sembunyi, terbuka, dan peredaran gelap lainnya.

 

“Dari yang sebelumnya tidak ada perkaranya, kemudian menjadi puluhan, dan sekarang ribuan, jadi secara grafik memang ada peningkatan,” tuturnya.

 

“Berarti ada hal yang harus kita antisipasi khususnya dalam penyaluran dan pengawasan distribusi farmasi,” imbuhnya.

 

Sedangkan untuk perkara uang palsu, ia mengungkapkan, jika dirunut dari perkara yang ditangani Kejari Kabupaten Tangerang, peningkatakan kasus uang palsu tersebut terjadi dalam 3-4 bulan terakhir di tahun 2024.

 

Ricky pun mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dalam melakukan transaksi uang di pasaran. Terlebih, perbuatan menyimpan, menyalurkan, dan menggunakan uang palsu, masuk dalam delik pidana.

 

“Ada fakta persidangan mereka membeli (uang palsu) dengan perbandingan 1 banding 5 semisal mereka beli 5 juta uang palsu seharga Rp1 juta tergantung kualitasnya dan ini harus kita cegah,” tandasnya. (Ki/din)