Bantuan Ikan dari Pak Lurah

REDAKSI | Doni
REDAKSI | Doni
20 Jun 2026 11:30
3 menit membaca

KALIAN tahu Oemar Bakri? Sosok guru sederhana dan bijaksana. Mendedikasikan hidup untuk mengajar tanpa pernah pusing berapa dia akan dibayar. Meski sosok Oemar Bakri itu fiktif, bukan berarti tidak ada orang seperti dirinya dalam kehidupan nyata.

Di Desa Cemara, sosok itu begitu lekat pada Pak Kurdin, seorang guru yang dikenal bijaksana. Tiga tahun lalu, dia terpilih menjadi kepala desa. Meski menjabat kepala desa, warga lebih sering memanggilnya Pak Lurah, alih-alih Pak Kades.

Sosoknya teduh. Tutur katanya lembut. Senyumnya tipis, sesekali berseringai. Dan yang paling penting, Pak Lurah Kurdin dikenal sangat pemurah. Dia tak pernah segan membantu siapa saja. Maka saat pemilihan kepala desa, suara warga tumpah kepadanya.

Latar belakang sebagai seorang guru jelas terbawa dalam gaya kepemimpinannya. Pak Lurah tak hanya menjadi pemimpin, tetapi juga pendidik. Karena itu, kebijakan-kebijakannya selalu terdengar berpihak kepada rakyat.

Kas desa dikelola dengan sangat transparan. Begitu transparannya, sampai tidak kelihatan. Warga tidak pernah direpotkan dengan laporan-laporan yang membingungkan.

Pak Lurah juga sangat anti-nepotisme. Karena itu dia memastikan jabatan-jabatan di desa berada di tangan orang-orang yang benar-benar bisa dipercaya. Dan tentu saja, tidak ada orang yang paling bisa dipercaya selain keluarga atau orang dekat.

Para pemuda Desa Cemara sibuk bekerja. Ada yang bekerja di luar kota atau di luar negeri. Sebagian pemuda lainnya sibuk bekerja mencari pekerjaan.

Dunia usaha berkembang pesat, terutama usaha-usaha yang kebetulan memiliki hubungan baik dengan Pak Lurah. Perusahaan-perusahan itu, selain menyerap tenaga kerja warga desa lain, juga berkontribusi terhadap meningkatnya aroma udara desa.

Pak Lurah juga berhasil menciptakan iklim usaha yang kondusif. Para pengusaha lokal dapat menjalankan usahanya dengan tenang. Tentunya selama memahami bahwa ketenangan, harus sebanding dengan besaran yang disetorkan.

Warga pun sangat mencintai Pak Lurah karena berhasil mewujudkan kehidupan desa yang ideal, seperti yang sering digambarkan dalam buku-buku pelajaran Bahasa Indonesia edisi zaman Orde Baru.

Pak Lurah juga sangat pemurah. Dia rutin membagikan ikan kepada warga. Katanya, agar masyarakat mendapatkan asupan protein yang cukup. Warga tentu saja senang. Sebab setidaknya, sebulan sekali dapat bantuan ikan.

Desa Cemara memang kaya akan sumber daya. Ikan melimpah di sungai dan danau. Belum lagi, Pak Lurah berhasil membudidayakan ratusan ribu ekor ikan. Katanya, semua itu demi kesejahteraan warga.

Pak Lurah rela menggunakan lahan miliknya untuk dijadikan empang. Hal itu karena Pak Lurah tidak rela warga harus bersusah payah memancing, menangkap, atau mengurus ikan sendiri. Sebagai pemimpin yang baik, biarlah dirinya saja yang memancing. Dirinya saja yang menangkap ikan. Biar dirinya saja yang mengurus sungai, danau, atau empang.

Warga pun tidak mau banyak mempertanyakan. Kas dan kekayaan desa mau dikelola dengan cara apa pun, warga tak memusingkan. Toh, Pak Lurah bukan sosok yang mencurigakan. Apalagi orang-orang desa kebanyakan tidak enakan. Sebagian lainnya memilih diam alias cari aman. Apalagi yang rutin dapat ikan.

Warga juga enggan melangkahkan kaki sekadar untuk melihat kondisi sungai, meninjau danau, atau memeriksa empang. Semua diserahkan kepada Pak Lurah. Sebab warga yakin, Pak Lurah pasti amanah. Bahkan sebagian warga mulai menganggap ikan dari Pak Lurah yang pemurah adalah hadiah.

Dengan segala kebaikannya, Pak Lurah dikenal tidak suka bermusuhan. Dia selalu mengedepankan musyawarah dan persaudaraan. Hanya satu hal yang selalu dia lawan: para penjual kail pancing dan beberapa orang yang mengajari warga cara menangkap atau mengelola ikan.

Lalu, sungai dan danau mengering. Empang yang jadi harapan, malah jadi parkiran. Tak ada lagi ikan yang dibagikan. Tapi warga tak berani mempertanyakan, karena warga tidak enakan kepada Pak Lurah yang enak-enakan.

____

Ditulis oleh Ahmad Romdoni

Segala materi yang ada dalam tulisan ini merupakan pandangan pribadi penulis dan menjadi tanggung jawab penulis. Bukan pandangan dan tanggung jawab redaksi.